... berjalan untuk menghidupkan hati ...
... - suluk - salik - darwis - tasawuf - tasauf - sufisme - teologi - anekdot - kisah klasik - ...


 

Nasruddin dan Pelancong

19 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Anekdot pk. 7:35 am | Mau mengirim artikel ini ?

Suatu malam Nasruddin sedang berlenggang di suatu jalanan berpasir. Kemudian ia melihat serombongan orang yang berkuda dengan cepat dan menuju kearahnya. Khayalannya mendadak bekerja. Ia membayangkan dirinya ditangkap atau dirampok atau dibunuh. Ketakutan oleh sebab khayalannya sendiri, ia segera melompat lari dan memanjat dinding yang membatasi sebuah pemakaman. Menelungkupkan diri di sebuah lubang galian yang masih terbuka untuk bersembunyi.

Heran oleh sebab melihat kelakuannya yang aneh, para penunggang kuda yang ternyata adalah pelancong-pelancong yang jujur itu pun mengikutinya.

Mereka menemukan Nasruddin sedang berbaring disitu, tegang dan gemetar.

“Sedang apa engkau di dalam lubang ini ? Kami melihat engkau melarikan diri. Adakah yang kami bisa bantu ? Mengapa engkau masuk ke dalam lubang ini ?

“Hanya karena engkau bisa menanyakan sesuatu bukan berarti bahwa akan selalu tersedia jawaban langsung untuk itu,” kata Nasruddin yang sudah menyadari gerangan apa yang terjadi. “Semua itu tergantung kepada sudut pandangmu. Bila engkau harus tahu, bagaimanapun juga, aku berada disini karena engkau - dan engkau pun berada disini karena aku !”

Bandung - 19/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

Nasruddin dan anak kecil

18 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Anekdot pk. 5:30 am | Mau mengirim artikel ini ?

Nasruddin Hoja sedang bekerja sebagai hakim lokal. Seorang wanita menemuinya bersama seorang puteranya. Ia mengeluhkan bahwa putranya punya kegemaran memakan gula-gula, yang sulit dikendalikan. Ia meminta Nasruddin untuk mengatakan kepada putranya agar berhenti memakan gula-gula selamanya. Nasruddin mengangguk dengan bijak, lalu menyuruhnya untuk kembali dalam dua minggu.

Ketika mereka kembali, ia hanya berkata kepada anak itu, “Nak, aku menyuruhmu untuk berhenti memakan gula-gula !”

Sang ibu bertanya, “Mengapa Anda membuat kami menunggu selama dua minggu ? Tidak bisakah Anda mengatakan hal tersebut kepada putra saya ketika kami pertama kali mendatangi Anda ?

Nasruddin menjawab, “Tidak, saya tidak mungkin mengatakan hal tersebut kepada putra Anda dua minggu yang lalu”

“Mengapa ?”
“Pertama,” jawab Nasruddin, “Saya harus terlebih dahulu berhenti memakan gula-gula.”

 

Bandung - 28/01/2009  [Mulla Nasruddin story, Robert Frager buku: Psikologi Sufi - Hati, Diri dan Jiwa]

Tiga Realitas Dasar

17 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Petikan-Petikan pk. 12:20 am | Mau mengirim artikel ini ?

JUDUL ASLI: THE THREE REALITIES [Sachiko Murata]

Dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah, kosmos atau makrokosmos, dan manusia atau mikrokosmos. Kita bisa menggambarkan ketiganya ini sebagai tiga sudut dari sebuah segitiga. Yang secara khusus menarik ialah hubungan yang terjalin di antara ketiga sudut. Allah [admin: Realitas Mutlak, Al Wujud] yang berada di puncak dan merup­akan sumber yang menciptakan kedua sudut yang ada di bawah, karena baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah realitas-realitas derivatif. Setiap sudut bisa dikaji dalam hu­ungannya dengan satu atau dua sudut lain­ya.

- mau melanjutkan membaca ?

Nasruddin dan pengemis

16 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Anekdot pk. 12:01 am | Mau mengirim artikel ini ?

Suatu ketika, Nasruddin keluar dari masjid sehabis menunaikan sholat, ia melihat seorang pengemis duduk di jalan sambil meminta-minta.

Kemudian …..

”Apakah hidupmu boros ?” tanya Nasruddin. ”Ya” jawab si pengemis. ”Apakah engkau menyukai duduk-duduk sambil minum kopi dan mengisap rokok ?” Tanya Nasruddin. ”Ya” jawab si pengemis. ”Kukira engkau pasti suka bila bisa mandi setiap hari ?” tanya Nasruddin. ”Ya, tentu saja” lagi-lagi si pengemis mengiyakan. ”Dan mencari kesenangan, barangkali dengan minum-minum bersama teman ?” tanya Nasruddin. ”Ya, aku menyukai semua itu” jawab si pengemis bersemangat. ”Cek cek” decak Nasruddin dan kemudian memberinya satu keping uang emas.

Dari kejauhan, ada pengemis lainnya yang mencuri dengar percakapan itu dan kemudian menghampirinya dan meminta derma.

”Apakah hidupmu boros ?" tanya Nasruddin, ”Tidak” jawab si pengemis kedua. ”Apakah engkau menyukai duduk-duduk sambil minum kopi dan mengisap rokok ?” tanya Nasruddin. ”Tidak” jawab si pengemis kedua. ”Kukira engkau pasti suka bila bisa mandi setiap hari ?” tanya Nasruddin. ”Juga tidak” jawab si pengemis. ”Dan mencari kesenangan, barangkali dengan minum-minum bersama teman ?” tanya Nasruddin. ”Tidak, tidak, aku hanya ingin sekadar hidup yang sederhana dan beribadah” jawab si pengemis kedua. Kemudian Nasruddin memberinya satu keping uang perunggu.

”Mengapa ini”, jerit si pengemis itu, ”Mengapa engkau berikan kepadaku, seorang yang hemat lagi soleh, hanya satu sen saja, sedangkan engkau berikan kepada orang yang boros itu jumlah yang lebih besar ?

”Aah kawanku”, tukas Nasruddin, ”yang dia butuhkan lebih banyak daripada yang engkau butuhkan.”

 

Bandung - 17/07/2008
Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah,
alih bahasa oleh wiwin.wr ©2008

Pemain Harpa

15 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Mawlana RUMI pk. 12:19 pm | Mau mengirim artikel ini ?

Judul asli ASLI: THE HARPER 

Syahdan, dikala Khalifah ke-dua Umar bin Khattab ra. memerintah, hiduplah seorang musikus, ia seorang yang pandai memetik harpa lagi merdu suaranya bagai lantunan suara terompet Izrafil as. Ia selalu disewa untuk memeriahkan suasana di setiap pesta keriaan.

Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun semakin tua dan suaranya tidak lagi merdu sampai akhirnya tidak ada seorangpun yang menyewanya untuk memeriahkan pesta-pesta keriaan mereka.

Dalam keputus-asaannya ia pergi ke tanah-pemakaman di Yatsrib dan memetik harpa-nya untuk Tuhan, mencari-Nya untuk berterima-kasih kepada-Nya atas apa-apa yang telah diberikan-Nya kepadanya. Seusai memainkan lagunya ia pun terlelap dan bermimpi bahwa ia sedang berada di surga.

Di malam yang sama muncul bisikan ilaahiyyah kepada Umar bin Khattab ra.  yang menyuruhnya untuk pergi ke tanah-pemakaman dan menolong seseorang yang sudah tua yang akan ditemuinya disana.

Umar ra. pun bergegas kesana dan mendapati musikus itu dan memberinya uang. Serta menjanjikan untuk memberinya lagi bilamana ia membutuhkan.

Orang itu kemudian melemparkan harpanya dan mengatakan bahwa harpa itulah yang menjadikannya terhijab dari Tuhan dan ia pun kemudian menyatakan rasa bersalahnya yang mendalam atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya di waktu lampau.

Umar ra. kemudian menjelaskan kepadanya bahwa perjalanan-duniawi-nya sekarang sudah berakhir. Dan ia tidak boleh membiarkan dirinya bersedih atas apa-apa yang terjadi di masa lampau sebagaimana saat ini ia sudah masuk ke dalam suasana yang penuh dengan kemurnian dan kecintaan akan penyatuan dengan Tuhan. Dan di dalam tingkatan yang penuh kemuliaan itu, perhatian kepada hal-hal di masa lampau dan di masa yang akan datang harus disingkirkan jauh-jauh.

Musikus itu menjalani pelajaran yang diterimanya dan sejak saat itu ia tidak lagi mengamen.

 

Bandung - 12/02/2009
Source:
MATSNAWI, The Spiritual Couplets of  Maulana Jalalu-’d-diin Muhammad Rumi,
Book I - Abridged and Translated by E.H. Whinfield 1898
- Story VIII.1 The Harper - alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

Perkawinan dan penyatuan

14 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Mawlana RUMI pk. 3:36 am | Mau mengirim artikel ini ?

Kebahagiaan adalah saat kita duduk bersama,
Dua sosok, dua wajah, yang menyatu …
kau dan aku.

Bunga-bunga ‘kan bermekaran dan
burung-burung ‘kan menembangkan kidungnya,
ketika kita memasuki taman … kau dan aku. 

Bintang-bintang ‘kan muncul di langit ‘tuk menjadi saksi,
‘kan kita terangi mereka,
dengan cahaya purnama … kau dan aku. 

Tiada lagi pemisahan ‘kau’ dan ‘aku’
nuansa kebahagiaan dalam penyatuan semata -
kegembiraan, kegairahan, tiada kesusahan … kau dan aku.

Burung-burung surga yang bersayap cemerlang,
‘kan menukik turun ‘tuk minum air yang manis -
air mata kebahagiaan kita … kau dan aku. 

Betapa sebuah keajaiban, kita duduk disini,
walau di tepi dunia yang berseberangan,
kita tetap akan duduk bersama … kau dan aku. 

Kita adalah satu sosok di dunia ini,
dan menjadi sosok yang lain dikemudian. 

bagi kita ada surga yang abadi,
keceriaan yang tanpa akhir …. kau dan aku.

 

Bandung, 11/02/2009
[Diwan, S P, XXXVIII – terjemahan ke bahasa Inggris oleh Reynold A Nicholson – alih ke bahasa Indonesia oleh wiwin.wr ©2009]
… saya masih belajar menerjemahkan, silahkan perbaiki di kolom komentar bila berkenan.

Saudagar dan Kakatua pintar

13 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Mawlana RUMI pk. 10:09 am | Mau mengirim artikel ini ?

Syahdan ada seorang saudagar yang memelihara seekor burung Kakatua. Burung itu ditempatkannya dalam sebuah sangkar.

Ketika ia hendak bepergian untuk berdagang ke Hindustan, dia bertanya kepada si burung Kakatua apakah ada pesan-pesan yang hendak dititipkan untuk disampaikan kepada sanak saudaranya di Hindustan.

Kakatua itu menginginkan agar saudagar itu mengatakan kepada sanak saudaranya disana bahwa ia hidup dalam sebuah sangkar. Saudagar itupun berjanji akan menyampaikan pesan tersebut.

Ketika ia sampai di Hindustan, disampaikannya pesan itu kepada kumpulan burung Kakatua yang pertama kali dijumpainya.

Demi mendengar pesan itu, seekor kakatua langsung jatuh tergeletak mati. Hal itu membuat si saudagar sangat jengkel kepada burung kakatuanya yang telah mengirimkan pesan semacam itu. Sepulangnya ke rumah ia segera memarahi kakatuanya dengan keras karena telah mengirimkan pesan yang semacam itu. Segera setelah mendengar cerita dari saudagar itu maka kakatua itupun jatuh dan tergeletak dalam sangkarnya, mati.

Saudagar itu, selepas meratapi kematian kakatuanya, mengambil bangkai burung itu dan kemudian membuangnya.

Anehnya, mendadak bangkai itu bangkit lagi dan terbang pergi menjauh. Kakatua itu telah mengikuti pesan yang ditunjukkan oleh sanak saudaranya di Hindustan agar ia menjalani laku seakan-akan mati untuk bisa terbebas dari kurungannya.

 

Bandung - 11/02/2009
Source:
MATSNAWI, The Spiritual Couplets of  Maulana Jalalu-’d-diin Muhammad Rumi,
Book I - Abridged and Translated by E.H. Whinfield 1898
- Story VII.1 The Merchant and his clever parrot - alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

Nama diri sebenarnya

12 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Mawlana RUMI pk. 8:26 am | Mau mengirim artikel ini ?

Pernahkah kau dengar nama segala sesuatu dari Yang Maha Mengetahui ?
Dengarlah makna rahasia “Dia mengajarkan kepadanya Nama-Nama”

Bagi kita, nama segala sesuatu adalah bentuk-bentuk lahirnya; bagi Sang Maha Pencipta, ia adalah hakekat bathinnya.

Dalam pandangan Musa, nama tongkatnya adalah ‘tongkat’; dalam pandangan Rabbu-l-alamiin namanya “naga”.
Di dunia ini nama ‘Umar’ adalah ‘pemuja berhala’, namun di alam baqa ia adalah “mukmin yang sesungguhnya”

Di hadapan Allah Ta’ala, pendek kata, segala yang merupakan tujuan penciptaan kita adalah nama kita yang sesungguhnya.

 

Maulana Jalaluddin Rumi - Matsnawi I, 1238
[sumber: Ajaran dan Pengalaman Sufi – Maulana Jalaluddin Rumi, terjemahan dari Reynold A Nicholson, cetakan Pustaka Firdaus 1996]

Buncis dalam periuk

11 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Mawlana RUMI pk. 6:24 am | Mau mengirim artikel ini ?

Lihatlah buncis dalam periuk.

Betapa ia meloncat-loncat selama menjadi sasaran api. Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan, merintih terus menerus tiada henti.

“Mengapa engkau letakkan api di bawahku ?
Engkau membeliku:
Mengapa kini kau siksa aku seperti ini ?” 

Sang Isteri memukulnya dengan penyendok.

“Sekarang,” katanya, “jadi benar-benar matanglah kau dan jangan meloncat lari dari yang menyalakan api.
Aku merebusmu, namun bukan karena kau membangkitkan kebencian-ku, sebaliknya, inilah yang membuatmu menjadi lebih lezat.
Dan menjadi gizi serta bercampur dengan jiwa yang hidup:
kesengsaraan bukanlah penghinaan.

Ketika engkau masih hijau dan segar, engkau minum air dari kebun:

air minum itu demi api ini.

Kasih Tuhan itu lebih dahulu daripada kemurkaan-Nya,
tujuannya bahwa dalam kasih-Nya
engkau dapat menderita kesengsaraan.

Kasih-Nya yang mendahului kemurkaan-Nya itu
supaya sumber penghidupan, yang ada, dapat dihasilkan;
Bahkan kemudian Tuhan Yang Maha Agung
membenarkannya, berfirman,

‘Sekarang engkau telah tercuci bersih, keluarlah dari sungai.’

Teruslah, wahai buncis, terebus dalam kesengsaraan
sampai wujud ataupun diri tak tersisa padamu lagi.
Jika engkau telah terputus dari taman bumi,
engkau akan menjadi makanan dalam mulut dan masuk ke kehidupan.
Jadilah gizi, energi, dan fikiran !

Engkau menjadi air bersusu: Kini jadilah singa hutan !

Awalnya engkau tumbuh dari Sifat-Sifat Tuhan:
kembalilah kepada Sifat-Sifat-Nya !

Engkau menjadi bagian dari awan, matahari dan bintang-bintang:
Engkau akan menjadi jiwa, perbuatan, perkataan, dan fikiran.

kehidupan binatang muncul dari kematian tetumbuhan: maka perintah,
‘bunuhlah aku, wahai para teman setia’ adalah benar.

Lantaran kemenangan menanti setelah mati, kata-kata,
‘Lihatlah, karena dibunuh aku hidup’ adalah benar.”

 

[sumber: Ajaran dan Pengalaman Sufi – Maulana Jalaluddin Rumi, terjemahan dari Reynold A Nicholson, cetakan Pustaka Firdaus 1996]

Rahasia Sang Kuasa

10 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Al Ghazali pk. 4:12 pm | Mau mengirim artikel ini ?

Dikisahkan bahwa ada seorang Nabi melakukan ibadat di sebuah gunung yang berdekatan dengan sebuah mata air. Kemudian lewatlah seorang penunggang kuda dan singgah sebentar untuk minum dari mata air tersebut. Kemudian karena terburu-buru, kantung uangnya yang berisi seribu dinar tertinggal disitu.

Tidak lama berselang datanglah orang lain lagi untuk minum, lalu ia mendapati kantung uang si penunggang kuda itu dan kemudian membawanya pergi. Berikutnya tibalah seorang lelaki miskin yang memikul seikat kayu bakar. Ia minum dan setelah itu ia berbaring untuk melepaskan lelah.

Tiba-tiba datanglah si penunggang kuda untuk mengambil kantung uangnya yang tertinggal namun ia tidak mendapati kantung uangnya disitu.

Karena tidak menemukan uangnya, sementara yang masih ada didekatnya adalah si miskin tersebut, si penunggang kuda menuduhnya dan menuntutnya untuk mengembalikan uangnya, ia terus-menerus memeriksanya dan menyiksanya, namun demikian ia tetap tidak mendapatkan uangnya, akhirnya si pembawa kayu bakar itupun dibunuhnya.

Menyaksikan peristiwa tersebut, Nabi yang sedang melakukan ibadat itu berseru kepada Allah Ta’ala, “wahai Rabbku, ada apa ini ? Yang mengambil kantung uang seribu dinar adalah orang lain. Namun mengapa Engkau menjadikan si penunggang kuda itu menzalimi si miskin tersebut hingga ia membunuhnya.”

Lalu Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepadanya,

”Bersibuk-sibuklah kamu dengan ibadatmu ! Mengetahui rahasia-rahasia Sang Maha Penguasa itu bukanlah urusanmu; si miskin pembawa kayu bakar itu telah membunuh ayah si penunggang kuda, karenanya Aku menempatkannya untuk mendapat qishash [balasan] daripadanya. Sedangkan ayah si penunggang kuda itu telah mengambil seribu dinar dari dari harta milik orangtua dari yang mengambil kantung uang itu dan Aku mengembalikannya sebagai warisannya.”

Manusia akan selalu bertanya-tanya, “mengapa begini”, “mengapa begitu”, “bagaimana bisa begini“ dan “bagamana bisa begitu” ….. sampai saatnya ia ridha kepada apa-apa yang ditentukan Allah Ta’ala di semesta alam-alam ini.

 

Bandung 15/07/2008 Semoga bermanfaat
[sumber: Al Ghazali dalam kitabnya Arba’in fii ushuluddiin, terjemahannya: Teosofia Al Quran, bab 39. Ridha terhadap Qadha, cetakan Risalah Gusti 1996]

Emas atau Pasir

9 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Petikan-Petikan pk. 3:39 pm | Mau mengirim artikel ini ?

Wahb ibn Munabbih mengisahkan bahwa seseorang menemui gurunya dan berkata, “Aku telah membuang hawa nafsu”….. “Apakah kamu masih bisa membedakan antara wanita dan obat-obatan ?” tanya gurunya. Orang itu menjawab, “Ya”

“Kau bukanlah membuang hawa-nafsu, Kau malahan membuatnya semakin kokoh,” tandas sang Guru.

Nabi Isa Ibn Maryam as. bertanya kepada kaumnya,
“Menurut kalian apakah kedua barang ini sama ?”
Di tangan kanannya emas, dan pasir di tangan kirinya.
“Tidak !” jawab mereka.

“Bagiku keduanya sama,” sanggah Nabi Isa as ……
Inilah orang
[admin: maksudnya Nabi Isa as.] yang berhasil menaklukkan hawa-nafsunya !

Barangkali ada yang bertanya, “Bagaimana hati menganggap pasir dan emas itu sama ?”

Manusia membedakan keduanya, atau lebih menghargai emas daripada pasir karena dorongan hawa-nafsu dalam shadrnya. Menjadikan ia melihat emas lebih bermanfaat daripada pasir sehingga lebih menghargainya.

Karena itu, sepatutnyalah orang yang ingin lepas dari belenggu hawa-nafsu agar mengolah-jiwanya hingga mampu memandang segala sesuatu dengan cahaya keyakinan. Semua adalah ciptaan Allah Ta’ala, semua adalah makhluk Allah Ta’ala. Penilaiannya terhadap setiap ciptaan-Nya senantiasa diselaraskan dengan penilaian Allah Ta’ala kepada ciptaan-Nya itu. Allah Ta’ala bisa saja memberikan nilai yang dikandung emas kepada batu atau kaca, sehingga nilai emas menjadi rendah. Tidakkah anda mendengar bahwa Umar bin Khattab ra. pernah hendak membuat dirham dari kulit sapi ?

Penghargaan terhadap dirham dan dinar harus sesuai dengan ketentuan Allah Ta’ala, bukan dengan dorongan hawa-nafsu. Kalau ada orang pergi ke Samarkand dengan membawa uang yang berlaku disana, dia pasti akan sangat menghargai uang itu. Dia akan sedih bila uang itu hilang dan senang jika mendapatkannya kembali. Tetapi seandainya dia pergi ke daerah lain tempat uang yang dibawanya tidak berlaku, dia tentu tidak berkeberatan membuang uang itu.

Ini adalah bukti bahwa emas sangat berharga dalam hati karena logam itu memiliki manfaat besar. Ia sebenarnya bisa saja ditukar dengan segala sesuatu. Atas dasar inilah, Allah Ta’ala sangat membenci orang yang menghargai dinar dan dirham (atau segaa sesuatu) karena manfaatnya, bukan karena Allah.

Anda harus melatih dan memisahkan diri anda dari semua pandangan demikian supaya hati bersih dan berjalan di atas keyakinan yang lurus. Dengan begitu anda bisa melihat dinar dan dirham sama seperti makhluk-makhluk ciptaan Allah Ta’ala lainnya.

Setelah itu, barulah anda mampu menilainya sesuai dengan penilaian Allah Ta’ala. Apabila anda sudah mampu menilai keduanya dengan benar seraya menyadari manfaat keduanya, saat itulah anda akan mengetahui nilai hakiki keduanya. Kedua logam itu tak lain adalah salah satu di antara sekian banyak ciptaan-Nya. Inilah maksud pernyataan Nabi Isa. as di atas.


Bandung 19/07/2008 Semoga bermanfaat
[sumber: At Tirmidzi dalam kitab Adabu-n-Nafsi, terjemahannya: The Wisdom of Al-Hakim At-Tirmidzi, bab tentang kehendak hawa-nafsu]

Kerendahan-hati sorang sufi

8 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Anekdot pk. 12:22 pm | Mau mengirim artikel ini ?

Dua orang guru sufi sedang duduk bersama di sebuah kedai teh tatkala seorang berlari masuk untuk mengabarkan bahwa salah seorang syaikh yang telah dikirim ke India olah guru sufi yang pertama telah meninggal dunia. Bersediakan ia mengirimkan syaikh yang baru ?

Guru sufi pertama menoleh kepada sahabatnya, “Aku senang karena mereka hanya meminta seorang syaikh, sebab jika mereka meminta seorang darwis, maka kamu atau aku yang harus pergi !”

 

[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager]

Semua berdzikir

7 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Anekdot pk. 10:18 pm | Mau mengirim artikel ini ?

Beberapa tahun silam, salah seorang syaikh dari Istanbul menyuruh para darwisnya agar pergi keluar memetik bunga untuk menghias pondok mereka. Mereka semua kembali dengan karangan-karangan bunga besar, kecuali seorang darwis yang hanya pulang sekuntum bunga yang layu.

Ketika ditanya mengapa ia tidak membawa pulang bunga-bunga indah yang segar, ia menjawab,

“Aku mendapati semua bunga sedang sibuk berdzikir kepada Tuhan. Bagaimana aku menghentikan doa mereka yang terus menerus itu ? Aku terus mencari dan akhirnya aku menemukan sekuntum bunga yang usai dari dzikirnya, dan inilah yang kubawa.”

Darwis itu kemudian menjadi syaikh yang berikutnya.

 

[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager]

Pelajar dan Pengamal

6 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Anekdot pk. 10:08 pm | Mau mengirim artikel ini ?

Suatu hari seorang sarjana sedang berperahu di sebuah danau yang besar. Ia mendengar sebuah suara datang dari arah sebuah pulau yang kecil. Merasa penasaran, ia pun mendayung perahunya menuju pulau tersebut. Ia melihat seorang pertapa sedang berdzikir sambil duduk dan membaca sebuah doa berulang-ulang.

Sang sarjana menyapa si pertapa seraya menjelaskan bahwa, berdasarkan bahasa Arab klasik, ia tidak tepat dalam mengucakan doa tersebut. Sang sarjana merasa puas karena telah mampu meluruskan si pertapa yang buta huruf tersebut. Lagi pula disebutkan bahwa mereka yang menguasai doa tersebut dapat berjalan di atas air.

Sang sarjana pun kemudian meninggalkan si pertapa pergi menaiki perahunya dan merasa puas atas amal baiknya.

Kemudian ia mendengar suara dari belakangnya, lalu menoleh. Si pertapa sedang berlari-lari di atas air untuk mengejarnya, “Wahai anak muda, aku telah mengucapkan doa tersebut secara salah selama bertahun-tahun ! Tolong ulangi kembali untukku dengan cara yang benar, sekali lagi.”

 

[Catatan: Ibn Arabi di kitabnya, al-Anwar fiima yamnahu soohib al-khalwat min Asroor, diterjemahkan menjadi buku: Cahaya Penakluk Surga, halaman 21, menuliskan tentang apa saja ciri-ciri awal orang-orang yang tawakkal billaah yakni : bumi terlipat di bawah kaki mereka, mereka mampu menerobos langit, mereka mampu berjalan di atas air, mereka diberi makan oleh semesta alam, dan semua tanpa usaha dari mereka.

[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager, disunting oleh web-admin]

Darwis belajar menulis

5 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Anekdot pk. 10:00 pm | Mau mengirim artikel ini ?

Seorang darwis [1] miskin suatu kali menghampiri seorang guru Bahasa Arab yang tidak memiliki ruang kelas. Sang guru menuliskan pelajarannya dengan kapur pada dinding kota. Sang darwis bertanya kepada si guru, apakah ia boleh belajar membaca dan menulis. Terdorong oleh ketulusan sang darwis, sang guru menawarkan pengajaran secara Cuma-Cuma. Ia mengambar garis vertikal pada dinding dan menjelaskan, “Ini adalah huruf alif, huruf yang pertama” Sang darwis membungkuk, berterima kasih , kemudian berjalan pergi. Sang guru, yang terbiasa mengajarkan setidaknya setengah dari keseluruhan abjad pada pengajaran pertama, merasa terkejut. Ini akan menjadi sebuah proses pengajaran yang panjang !

Pada hari berikutnya, bahkan minggu berikutnya, sang darwis tidak kembali. Akhirnya, sang guru melupakannya. Beberapa bulan kemudian sang darwis muncul. Matanya memancarkan cahaya batiniyyah. Ia membungkuk dengan hormat dan mengatakan siap untuk pelajaran berikutnya. Sang guru berpikir, “Kita tidak akan dapat menyelesaikan keseluruhan abjad dengan tempo seperti ini, “ namun yang ia katakan pada sang darwis adalah, “Baiklah. Pertama kali, mari kita mengulang pelajaran yang pertama. Tulislah huruf alif pada dinding ini.”

Sang darwis menuliskan huruf alif, lalu dinding itu pun rubuh.

Robert Frager dalam bukunya menuliskan lanjutan kisah di atas:

Kisah ini mengingatkan kita bahwa ada hal yang lebih dari sebuah permulaan yang sederhana daripada yang kita sadari. Rahasia dari kemajuan spiritual terletak bukan kepada berapa banyak kita belajar tetapi sejauh mana penguasaan kita terhadap yang kita pelajari.

 

[1] Darwis adalah sebutan untuk seorang yang sedang belajar menjadi pengamal thasawwuf.
[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager]

Penyakit dan obatnya

4 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Anekdot pk. 9:57 pm | Mau mengirim artikel ini ?

Seorang pemuda menjadi murid seorang syaikh. Ia ditugaskan membersihkan jamban [peturasan atau bisa juga kamar-mandi]. Ibunya, seorang dokter kaya raya, memohon kepada sang syaikh agar memberi sang anak tugas yang lain, dan mengirimkan dua belas budak Ethiopia kepada sang syaikh untuk membersihkan jamban-jamban itu.

Syaikh menjawab, “Anda seorang dokter. Jika putra Anda menderita radang pada kandung kemihnya, haruskah saya mengobati seorang budak Ethiopia sebagai gantinya ?”

 

[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager]

Perkawinan dan pensucian

3 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Mawlana RUMI pk. 1:36 am | Mau mengirim artikel ini ?

Rumi berkata:

“Siang dan malam kamu berada di medan peperangan, berjuang keras untuk mengubah sifat si lawan jenis, untuk menjernihkan ketidakmurnian mereka dan untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan. Lebih baik untuk menyucikan  dirimu sendiri melalui mereka ketimbang mencoba menyucikan mereka melalui dirimu. Ubahlah dirimu dengan bantuan mereka. Pergilah kepada mereka dan terimalah apa-apa yang mereka katakan, sekalipun dari sudut pandangmu kata-kata mereka terdengar aneh dan tidak adil.

Nabi Muhammad Saw. berkata: “Tidak ada kerahiban dalam Islam”. Itulah sebuah kebenaran.

Cara hidup para rahib adalah penyepian, yang berdiam di gunung-gunung, laki-laki tidak hidup dengan wanita dan menjauhkan diri dari dunia. Allah menunjukkan kepada Nabi sebuah jalan lurus yang tersamar.

Jalan apa itu ?

- mau melanjutkan membaca ?

Bahlul berjualan

2 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Anekdot pk. 4:34 am | Mau mengirim artikel ini ?

Bahlul dikenal sebagai seorang pandir yang bijak di penjuru Bagdad. Suatu hari ia duduk di sebuah pasar dengan tiga buah tengkorak kepala di hadapannya.

Di depan tengkorak yang pertama terdapat tanda bertuliskan “GRATIS.” Di depan tengkorak kedua terdapat tanda bertuliskan “SATU SEN.” Tengkorak ke tiga memiliki tanda bertuliskan “TAK TERNILAI.”

Ketiga tengkorak tersebut tampak serupa, dan setiap orang yang melihat kiosnya mengira bahwa Bahlul telah gila. Akhirnya, seseorang mendekatinya dan bertanya mengenai perbedaan harganya.

Bahlul mengambil sebuah tusuk daging dan mencoba untuk memasukkannya pada lubang telinga dari tengkorak yang pertama, namun ia tak berhasil. “Lihatlah,” katanya, “Tidak ada yang dapat masuk ke dalam. Tengkorak ini sama sekali tidak bernilai.”

Kemudian ia mencoba tusuk daging tersebut pada tengkorak yang kedua. Ia dapat dengan mudah masuk melalui kedua lubang telinga tersebut, dan langsung menembus sisi lainnya. “Lihatlah, tidak ada yang tinggal di dalamnya. Tengkorak ini hanya bernilai satu sen.”

Ketika Bahlul mencobanya pada tengkorak yang ketiga, tusuk daging tersebut masuk dengan mudah melewati lubang pertama tetapi tidak menembus lubang kedua. Jelasnya, “Tengkorak ini tidak ternilai. Apa yang masuk ke dalamnya, akan tetap tinggal di dalam” …..

 

[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager]

Nasruddin pura-pura

1 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Anekdot pk. 10:45 am | Mau mengirim artikel ini ?

Nasruddin biasa berdiri di tepi jalan di hari pasar, menjadi bahan tertawaan orang yang lalu-lalang karena laku kedunguannya, tidak peduli seberapa sering orang-orang menawarkan (uang logam) keping besar atau kecil, ia selalu memilih keping yang kecil.

Suatu hari, seorang yang baik-hati berkata kepadanya, ”Nasruddin, engkau harus memilih keping yang besar sehingga kemudian engkau bisa memiliki uang yang lebih banyak dan orang-orang tidak lagi menjadikan engkau sebagai bahan tertawaan”…..

”Mungkin itu benar” kata Nasruddin ”Tetapi bila aku selalu memilih keping yang besar maka orang-orang akan berhenti menawariku uang karena mereka tidak lagi melihat bahwa aku lebih dungu daripada mereka. Kalau seperti itu maka aku akan menjadi tidak punya uang sama sekali”

 

Bandung - 17/07/2008
[Mulla Nasruddin stories, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2008]