Darwis belajar menulis
5 February 2009, posting oleh wiwin.wrSeorang darwis [1] miskin suatu kali menghampiri seorang guru Bahasa Arab yang tidak memiliki ruang kelas. Sang guru menuliskan pelajarannya dengan kapur pada dinding kota. Sang darwis bertanya kepada si guru, apakah ia boleh belajar membaca dan menulis. Terdorong oleh ketulusan sang darwis, sang guru menawarkan pengajaran secara Cuma-Cuma. Ia mengambar garis vertikal pada dinding dan menjelaskan, “Ini adalah huruf alif, huruf yang pertama” Sang darwis membungkuk, berterima kasih , kemudian berjalan pergi. Sang guru, yang terbiasa mengajarkan setidaknya setengah dari keseluruhan abjad pada pengajaran pertama, merasa terkejut. Ini akan menjadi sebuah proses pengajaran yang panjang !
Pada hari berikutnya, bahkan minggu berikutnya, sang darwis tidak kembali. Akhirnya, sang guru melupakannya. Beberapa bulan kemudian sang darwis muncul. Matanya memancarkan cahaya batiniyyah. Ia membungkuk dengan hormat dan mengatakan siap untuk pelajaran berikutnya. Sang guru berpikir, “Kita tidak akan dapat menyelesaikan keseluruhan abjad dengan tempo seperti ini, “ namun yang ia katakan pada sang darwis adalah, “Baiklah. Pertama kali, mari kita mengulang pelajaran yang pertama. Tulislah huruf alif pada dinding ini.”
Sang darwis menuliskan huruf alif, lalu dinding itu pun rubuh.
Robert Frager dalam bukunya menuliskan lanjutan kisah di atas:
Kisah ini mengingatkan kita bahwa ada hal yang lebih dari sebuah permulaan yang sederhana daripada yang kita sadari. Rahasia dari kemajuan spiritual terletak bukan kepada berapa banyak kita belajar tetapi sejauh mana penguasaan kita terhadap yang kita pelajari.
[1] Darwis adalah sebutan untuk seorang yang sedang belajar menjadi pengamal thasawwuf.
[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager]

