... berjalan untuk menghidupkan hati ...
... - suluk - salik - darwis - tasawuf - tasauf - sufisme - teologi - anekdot - kisah klasik - ...


 

Tiga Realitas Dasar

17 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Petikan-Petikan pk. 12:20 am | Mau mengirim artikel ini ?

JUDUL ASLI: THE THREE REALITIES [Sachiko Murata]

Dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah, kosmos atau makrokosmos, dan manusia atau mikrokosmos. Kita bisa menggambarkan ketiganya ini sebagai tiga sudut dari sebuah segitiga. Yang secara khusus menarik ialah hubungan yang terjalin di antara ketiga sudut. Allah [admin: Realitas Mutlak, Al Wujud] yang berada di puncak dan merup­akan sumber yang menciptakan kedua sudut yang ada di bawah, karena baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah realitas-realitas derivatif. Setiap sudut bisa dikaji dalam hu­ungannya dengan satu atau dua sudut lain­ya.

- mau melanjutkan membaca ?

Emas atau Pasir

9 February 2009, posting oleh wiwin.wr
disimpan di Petikan-Petikan pk. 3:39 pm | Mau mengirim artikel ini ?

Wahb ibn Munabbih mengisahkan bahwa seseorang menemui gurunya dan berkata, “Aku telah membuang hawa nafsu”….. “Apakah kamu masih bisa membedakan antara wanita dan obat-obatan ?” tanya gurunya. Orang itu menjawab, “Ya”

“Kau bukanlah membuang hawa-nafsu, Kau malahan membuatnya semakin kokoh,” tandas sang Guru.

Nabi Isa Ibn Maryam as. bertanya kepada kaumnya,
“Menurut kalian apakah kedua barang ini sama ?”
Di tangan kanannya emas, dan pasir di tangan kirinya.
“Tidak !” jawab mereka.

“Bagiku keduanya sama,” sanggah Nabi Isa as ……
Inilah orang
[admin: maksudnya Nabi Isa as.] yang berhasil menaklukkan hawa-nafsunya !

Barangkali ada yang bertanya, “Bagaimana hati menganggap pasir dan emas itu sama ?”

Manusia membedakan keduanya, atau lebih menghargai emas daripada pasir karena dorongan hawa-nafsu dalam shadrnya. Menjadikan ia melihat emas lebih bermanfaat daripada pasir sehingga lebih menghargainya.

Karena itu, sepatutnyalah orang yang ingin lepas dari belenggu hawa-nafsu agar mengolah-jiwanya hingga mampu memandang segala sesuatu dengan cahaya keyakinan. Semua adalah ciptaan Allah Ta’ala, semua adalah makhluk Allah Ta’ala. Penilaiannya terhadap setiap ciptaan-Nya senantiasa diselaraskan dengan penilaian Allah Ta’ala kepada ciptaan-Nya itu. Allah Ta’ala bisa saja memberikan nilai yang dikandung emas kepada batu atau kaca, sehingga nilai emas menjadi rendah. Tidakkah anda mendengar bahwa Umar bin Khattab ra. pernah hendak membuat dirham dari kulit sapi ?

Penghargaan terhadap dirham dan dinar harus sesuai dengan ketentuan Allah Ta’ala, bukan dengan dorongan hawa-nafsu. Kalau ada orang pergi ke Samarkand dengan membawa uang yang berlaku disana, dia pasti akan sangat menghargai uang itu. Dia akan sedih bila uang itu hilang dan senang jika mendapatkannya kembali. Tetapi seandainya dia pergi ke daerah lain tempat uang yang dibawanya tidak berlaku, dia tentu tidak berkeberatan membuang uang itu.

Ini adalah bukti bahwa emas sangat berharga dalam hati karena logam itu memiliki manfaat besar. Ia sebenarnya bisa saja ditukar dengan segala sesuatu. Atas dasar inilah, Allah Ta’ala sangat membenci orang yang menghargai dinar dan dirham (atau segaa sesuatu) karena manfaatnya, bukan karena Allah.

Anda harus melatih dan memisahkan diri anda dari semua pandangan demikian supaya hati bersih dan berjalan di atas keyakinan yang lurus. Dengan begitu anda bisa melihat dinar dan dirham sama seperti makhluk-makhluk ciptaan Allah Ta’ala lainnya.

Setelah itu, barulah anda mampu menilainya sesuai dengan penilaian Allah Ta’ala. Apabila anda sudah mampu menilai keduanya dengan benar seraya menyadari manfaat keduanya, saat itulah anda akan mengetahui nilai hakiki keduanya. Kedua logam itu tak lain adalah salah satu di antara sekian banyak ciptaan-Nya. Inilah maksud pernyataan Nabi Isa. as di atas.


Bandung 19/07/2008 Semoga bermanfaat
[sumber: At Tirmidzi dalam kitab Adabu-n-Nafsi, terjemahannya: The Wisdom of Al-Hakim At-Tirmidzi, bab tentang kehendak hawa-nafsu]