<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>berjalan untuk menghidupkan hati</title>
	<link>http://widjaja.blogsome.com</link>
	<description>- suluk - salik - darwis - tasawuf - tasauf - sufisme - teologi - anekdot - kisah klasik -</description>
	<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 10:55:57 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Nasruddin dan Pelancong</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/19/nasruddin-dan-orang-berkuda/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/19/nasruddin-dan-orang-berkuda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 00:35:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Anekdot</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/19/nasruddin-dan-orang-berkuda/</guid>
		<description><![CDATA[<p>&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;Suatu malam Nasruddin sedang berlenggang di suatu jalanan berpasir. Kemudian ia melihat serombongan orang yang berkuda dengan cepat dan menuju kearahnya. Khayalannya mendadak bekerja. Ia membayangkan dirinya ditangkap atau dirampok atau dibunuh. Ketakutan oleh sebab khayalannya sendiri, ia segera melompat lari dan memanjat dinding yang membatasi sebuah pemakaman. Menelungkupkan diri di sebuah lubang [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><code>&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;Suatu malam Nasruddin sedang berlenggang di suatu jalanan berpasir. Kemudian ia melihat serombongan orang yang berkuda dengan cepat dan menuju kearahnya. Khayalannya mendadak bekerja. Ia membayangkan dirinya ditangkap atau dirampok atau dibunuh. Ketakutan oleh sebab khayalannya sendiri, ia segera melompat lari dan memanjat dinding yang membatasi sebuah pemakaman. Menelungkupkan diri di sebuah lubang galian yang masih terbuka untuk bersembunyi. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;Heran oleh sebab melihat kelakuannya yang aneh, para penunggang kuda yang ternyata adalah pelancong-pelancong yang jujur itu pun mengikutinya. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;Mereka menemukan Nasruddin sedang berbaring disitu, tegang dan gemetar.&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&amp;ldquo;Sedang apa engkau di dalam lubang ini ? Kami melihat engkau melarikan diri. Adakah yang kami bisa bantu ? Mengapa engkau masuk ke dalam lubang ini ? &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font color="#cc9900"&gt;&amp;ldquo;Hanya karena engkau bisa menanyakan sesuatu bukan berarti bahwa akan selalu tersedia jawaban langsung untuk itu,&amp;rdquo; kata Nasruddin yang sudah menyadari gerangan apa yang terjadi. &amp;ldquo;Semua itu tergantung kepada sudut pandangmu. Bila engkau harus tahu, bagaimanapun juga, aku berada disini karena engkau - dan engkau pun berada disini karena aku !&amp;rdquo; &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font color="#999900"&gt;Bandung - 19/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr &amp;copy;2009&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
</code></pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/19/nasruddin-dan-orang-berkuda/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Nasruddin dan anak kecil</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/18/nasruddin-dan-anak-kecil/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/18/nasruddin-dan-anak-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 22:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Anekdot</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/18/nasruddin-dan-anak-kecil/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Nasruddin Hoja sedang bekerja sebagai hakim lokal. Seorang wanita menemuinya bersama seorang puteranya. Ia mengeluhkan bahwa putranya punya kegemaran memakan gula-gula, yang sulit dikendalikan. Ia meminta Nasruddin untuk mengatakan kepada putranya agar berhenti memakan gula-gula selamanya. Nasruddin mengangguk dengan bijak, lalu menyuruhnya untuk kembali dalam dua minggu.     Ketika mereka [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Nasruddin Hoja sedang bekerja sebagai hakim lokal. Seorang wanita menemuinya bersama seorang puteranya. Ia mengeluhkan bahwa putranya punya kegemaran memakan gula-gula, yang sulit dikendalikan. Ia meminta Nasruddin untuk mengatakan kepada putranya agar berhenti memakan gula-gula selamanya. Nasruddin mengangguk dengan bijak, lalu menyuruhnya untuk kembali dalam dua minggu. <br /></p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Ketika mereka kembali, ia hanya berkata kepada anak itu, &ldquo;Nak, aku menyuruhmu untuk berhenti memakan gula-gula !&rdquo; <br /></p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Sang ibu bertanya, &ldquo;Mengapa Anda membuat kami menunggu selama dua minggu ? Tidak bisakah Anda mengatakan hal tersebut kepada putra saya ketika kami pertama kali mendatangi Anda ? <br /></p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Nasruddin menjawab, &ldquo;Tidak, saya tidak mungkin mengatakan hal tersebut kepada putra Anda dua minggu yang lalu&rdquo; <br /></p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">&ldquo;Mengapa ?&rdquo;<br />&ldquo;Pertama,&rdquo; jawab Nasruddin, &ldquo;Saya harus terlebih dahulu berhenti memakan gula-gula.&rdquo;</font></p></blockquote><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">Bandung - 28/01/2009 &nbsp;[Mulla Nasruddin story, Robert Frager buku: Psikologi Sufi - Hati, Diri dan Jiwa]</font></p>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/18/nasruddin-dan-anak-kecil/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga Realitas Dasar</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/17/tiga-realitas-dasar/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/17/tiga-realitas-dasar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 17:20:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Petikan-Petikan</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/17/tiga-realitas-dasar/</guid>
		<description><![CDATA[<pre><code>JUDUL ASLI: THE THREE REALITIES [Sachiko Murata]            Dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah, kosmos atau makrokosmos, dan manusia atau mikrokosmos. Kita bisa menggambarkan ketiganya ini sebagai tiga sudut dari sebuah segitiga. Yang secara [...]
</code></pre>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">JUDUL ASLI: THE THREE REALITIES [Sachiko Murata]</font><br />  <br />  </p>  <div align="left">  </div><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal">Dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah, kosmos atau makrokosmos, dan manusia atau mikrokosmos. Kita bisa menggambarkan ketiganya ini sebagai tiga sudut dari sebuah segitiga. Yang secara khusus menarik ialah hubungan yang terjalin di antara ketiga sudut. Allah <font color="#999900">[admin: Realitas Mutlak, Al Wujud]</font> yang berada di puncak dan merup&shy;akan sumber yang menciptakan kedua sudut yang ada di bawah, karena baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah realitas-realitas derivatif. Setiap sudut bisa dikaji dalam hu&shy;ungannya dengan satu atau dua sudut lain&shy;ya. <br />  </p><a id="more-21"></a>  <div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal">Gambar segitiga menjadi lebih kompleks lagi oleh fakta bahwa masing-masing dari ketiga realitas itu mempunyai dua dimensi dasar dan bisa dilukiskan sebagai sebuah salib. Sumbu vertikal menggambarkan satu jenis hubungan, dan sumbu horizontal melukiskan jenis hubungan lainnya. Di puncak, sumbu vertikal dibentuk oleh perbedaan antara Esensi Ilahi dan sifat-sifat Ilahi, sementara sumbu horizontal mencerminkan berbagai hubungan antara nama-nama Ilahi komplementer, seperti yang Maha Memuliakan dan yang Maha Menghinakan atau yang Maha Menghidupkan dan yang Maha Mematikan. Bisa ditarik perbedaan-perbedaan paralel baik dalam mikrokosmos maupun makrokosmos. &quot;Langit dan Bumi&quot; atau &quot;Jiwa dan Raga&quot; meng&shy;gambarkan sumbu vertikal, sementara kesal&shy;ing&middot; hubungan antara berbagai realitas pada setiap tataran dan arasy membentuk sejumlah sumbu horizontal. Untuk sementara, penting kiranya memunculkan struktur segitiga dasar dari keseluruhan realitas. Bab-bab berikutnya akan membahas hubungan-hubungan internal dan eksternal.</p>  <div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p> <div align="left">  </div><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal"><strong>Tanda-tanda di Cakrawala dan Jiwa</strong> <br />  </p>  <div align="left">  </div><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal">Istilah-istilah paling umum dalam teks-&shy;teks yang ada pada kami uutuk makrokosmos dan mikrokosmos adalah terjemahan literal atau harfiah dalam bahasa Arab atas ungkap&shy;an-ungkapan Yunani: al-&#8217;alam al-kabir, &quot;alam besar,&quot; dan al-&#8217;alam al-shaghir, &quot;alam kecil&quot;. Sering kali kata &lsquo;lebih besar&rsquo; dan &lsquo;lebih kecil&rsquo; digunakan sebagai ganti kata &lsquo;besar&rsquo; dan &lsquo;kecil&rsquo;. Ter&shy;kadang, keutamaan diberikan kepada manu&shy;sia. Maka, makrokosmos pun menjadi &ldquo;ma&shy;nusia besar&quot; (al-insan al-kabir) dan mikro&shy;kosmos menjadi &quot;manusia kecil&quot; (al-insan al-&shy;shaghir) <font color="#999900">[1]</font>. Istilah makrokosmos sinonim de&shy;ngan dunia atau kosmos, yang biasanya di&shy;definisikan sebagai &quot;segala sesuatu selain Allah.&quot; Manakala pengarang-pengarang kami menggunakan istilah makrokosmos pengganti kosmos, mereka berbuat demikian untuk membuat kontras dengan mikrokosmos. Mi&shy;krokosmos adalah individu manusia, yang melambangkan seluruh kualitas yang dijum&shy;pai dalam shifat-shifat dan asma-asma Allah dan makrokosmos. <br />  </p>  <div align="left">  </div><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal">Banyak pengarang menyinggung-nying&shy;gung makrokosmos dan mikrokosmos mela&shy;lui ungkapan &quot;cakrawala dan jiwa&quot; (al-afaq wa al-anfus). Ungkapan ini kembali kepada ayat Al-Quran, &quot;Kami akan memperlihatkan tanda-tanda Kami di segenap cakrawala dan dalamjiwa mereka sendiri, sampaijelas bagi mereka bahwa Dia adalah Mahabenar&quot; (QS [41]: 53). &quot;Tanda-tanda&quot; (aayaat) Allah yang di&shy;jumpai baik di dalam maupun di luar diri manusia, merupakan salah satu tema yang di&shy;ulang-ulang dalam AI-Quran. Kitab tersebut menggunakan istilah tanda dalam bentuk tunggal atau jamak sebanyak 288 kali dalam beberapa makna yang berkaitan erat. Sebuah tanda adalah fenomena yang memberitahukan ihwal Allah. Tanda itu bisa berupa seorang nabi, risalah nabi, mukjizat nabi, atau berbagai hal yang ada di dalam alam. Ia bisa bertalian dengan alam lahiriah, makrokosmos, atau alam batiniah, mikrokosmos. &quot;Dan di atas bumi ada tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan juga dalam dirimu. Apakah tiada kamu perhatikan ?&quot; (QS[ 51]: 20-21). Singkat kata, segala sesuatu di alam semesta adalah tanda Allah. <br />  </p>  <div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal">Banyak ayat Al-Quran mengungkapkan gagasan bahwa semua objek alam adalah tanda-tanda Allah. Sangatlah penting mema&shy;hami gagasan ini sebagai fondasi pemikiran Islam, karena ia menetapkan hubungan antara Allah dan kosmos dalam terma-terma yang pasti. Di samping itu, ayat-ayat yang menggu&shy;nakan istilah itu biasanya menyebut-nyebut bagaimana sebaiknya manusia menanggapi tanda-tanda Allah: mengingat, memahami, melihat, bersyukur, merenung, menggunakan akal, beriman dan bertakwa kepada Allah, dan sebagainya. Saya mengutip beberapa contoh untuk men&shy;jelaskan hal ini secara lebih jelas:</p>  <div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p>  <div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  <blockquote>  <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999966">&quot;Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, supaya kamu pergunakan sebagai pe&shy;nunjuk jalan dalam kegelapan di darat dan di laut. telah Kami jelaskan tanda-tanda (kebe&shy;saran) Kami bagi orang-orang yang mengetahui dan paham&quot; (QS.[6]:97). <br />  </font></p>  <div align="left">  </div><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999966">&quot;Dan tanah yang baik keluarlah darinya tanaman (subur) dengan seizin Rabbnya. Tapi (tanah) yang buruk hanya keluar darinya tanaman yang merana. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kebesaran Kami kepada kaum yang bersyukur&rdquo; (QS.[S]: 58 ). <br />  </font></p>  <div align="left">  </div><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999966">&quot;Dalam silih berganti malam dan siang, (dalam) segala yang Allah ciptakan di langit dan d bumi, ada tanda-tanda (kebesaran) -Nya bagi orang-orang yang bertakwa (kepada-Nya).&rdquo; (QS.[10]:6). <br />  </font></p>  <div align="left">  </div><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999966">&nbsp;&quot;Dan segala yang diciptakan-Nya bagimu di bumi yang aneka ragam warnanya, semua itu merupakan tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang menerima peringatan&quot; (QS.[16]:13). <br />  </font></p>  <div align="left">  </div><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999966">&quot;Tiadakah mereka melihat burung-burung terbang patuh di ruang angkasa ? Tiada yang menahan kecuali Allah. Sungguh, semua itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang beriman&rdquo; (QS[16]:79) <br />  </font></p>  <div align="left">  </div><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999966">&quot;Dan di antara tanda-tanda (kebesaran) -&shy;Nya ialah bahwa Dia memperlihatkan kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan. Dia menurunkan hujan dari langit dan -de&shy;ngan itu- memberi hidup kepada bumi se&shy;sudah ia mati. Sungguh, dalam yang demikian itu, ada tanda-tanda bukti bagi orang-orang yang menggunakan akalnya&quot; (QS[30]:24). <br />  </font></p>  <div align="left">  </div><div align="left">  </div><font color="#999966">&quot;Allah mengambil jiwa orang waktu mati&shy;nya, dan jiwa (orang) yang (belum mati), diam&shy;bil-Nya waktu tidurnya. Ditahan-Nya jiwa (orang) yang telah ditentukan kematiannya. Sungguh, semua itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang menggunakan pikiran&quot; (QS.[39]:42).</font><br />  </blockquote>  </div>  <p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p>  <div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal">Manakala Al-Quran memerintahkan ma&shy;nusia untuk melihat segala sesuatu sebagai tanda-tanda Allah, maka ini berarti bahwa Al&shy;Quran mendorong manusia untuk menggunakan &ldquo;sebuah proses mental&rdquo; tertentu yang tidak ditujukan semata-mata pada obyek, hal-hal, atau data. Sebaliknya, Al-Quran menga&shy;takan kepada kita bahwa kita mesti memahami segala sesuatu bukan melulu tentang objeknya sendiri, melainkan juga tentang apa yang da&shy;pat diterangkannya mengenai sesuatu di luar dirinya. Segala sesuatu itu seperti ibarat, per&shy;umpamaan, dan simbol-sirnbol. Sebagaimana dikatakan Lane dalam kamus Arab klasiknya, seraya mengutip seorang otoritas kuno, kata &quot;ayat&quot; secara tepat bermakna sesuatu yang tampak adalah tak terpisahkan oleh sesuatu yang tak tampak, sehingga ketika seseorang memahami yang tampak, maka dia tahu bah&shy;wa dia memahami yang tak tampak, di mana yang tak tampak tidak bisa dipahami dengan dirinya sendiri. Menurut definisi, Allah ti&shy;daklah tampak. Namun, jejak-jejak dan isya&shy;rat-isyarat dari ciptaan-Nya yang mengagum&shy;kan, bisa menghasilkan pemahaman tentang Allah, jika kita memang merenungkannya&#8230;&#8230; </p>  <div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p>  <div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">Catatan kaki:</font></p>  <div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">[1]&nbsp; Kadang-kadang manusia dipandang sebagai realitas lebih besar disebabkan keunggulan kualitatif tertentu yan gberkaitan dengan kekholifahan manusia. Kemudian, manusia adalah makrokosmos, dan kosmos adalah mikrokosmos. Misalnya Sam&rsquo;aanii (Rawh Al-Arwaah 180) menulis, &rdquo;Sekalipun struktur manusia itu kecil dari sudut pandang penglihatan Anda, dalam batasan makna, kemuliaan, khazanah dan misteri yang ada di dalamnya, ia adalah kosmos yang lebih besar (&rsquo;alam-i akbar&rsquo;).&rdquo;</font></p>  <div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal"><a href="http://widjaja.blogsome.com/wp-admin/images/Tao_of_Islam_The_Three_Realities.jpg"><img width="460" vspace="10" height="326" border="0" align="middle" src="http://widjaja.blogsome.com/wp-admin/images/thumb-Tao_of_Islam_The_Three_Realities.jpg" /></a><br />  <br />  <font color="#999900">Gb.1: Original teks dari buku-aslinya dalam format jpeg.</font></p>  <div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">[ Bandung - 16/02/2009 &hellip;.. Source: The Tao of Islam, page 23-26, Sachiko Murata, edisi terjemahan tanpa perubahan redaksional. Kalau berminat bisa membaca secara teks aslinya secara online <a href="http://widjaja.blogsome.com/go.php?u=http%3A%2F%2Fwww.amazon.com%2Fgp%2Freader%2F0791409147%2Fref%3Dsib_dp_pt%23&amp;i=0&amp;c=4442b757c326b01894c16095aab27522e5096923" target="_blank" title="Amazon book store">di sini</a> atau <a href="http://widjaja.blogsome.com/go.php?u=http%3A%2F%2Fbooks.google.com%2Fbooks%3Fhl%3Den%26amp%3Bid%3DdohUSRo2DpUC%26amp%3Bdq%3DThe%2BTao%2Bof%2BIslam%26amp%3Bprintsec%3Dfrontcover%26amp%3Bsource%3Dweb%26amp%3Bots%3Dt5NkqeYZbT%26amp%3Bsig%3DPqRqDg-8L-rHq5mu3bGUpCyqoG0%26amp%3Bsa%3DX%26amp%3Boi%3Dbook_result%26amp%3Bresnum%3D4%26amp%3Bct%3Dresult%23PPP1%2CM1&amp;i=0&amp;c=c28b3a6df4c2c0593b72a39d7ca3cff9c6ffde83" target="_blank" title="Google book store">di sini</a> atau download image di atas.]</font></p>    </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/17/tiga-realitas-dasar/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Nasruddin dan pengemis</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/16/nasruddin-dan-pengemis/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/16/nasruddin-dan-pengemis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 17:01:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Anekdot</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/16/nasruddin-dan-pengemis/</guid>
		<description><![CDATA[<pre><code>Suatu ketika, Nasruddin keluar dari masjid sehabis menunaikan sholat, ia melihat seorang pengemis duduk di jalan sambil meminta-minta.  Kemudian &amp;hellip;..  &amp;rdquo;Apakah hidupmu boros ?&amp;rdquo; tanya Nasruddin. &amp;rdquo;Ya&amp;rdquo; jawab si pengemis. &amp;rdquo;Apakah engkau menyukai duduk-duduk sambil minum kopi dan mengisap rokok ?&amp;rdquo; Tanya Nasruddin. &amp;rdquo;Ya&amp;rdquo; jawab si pengemis. &amp;rdquo;Kukira engkau [...]
</code></pre>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div align="left">  </div>  <p align="left" class="MsoNormal">Suatu ketika, Nasruddin keluar dari masjid sehabis menunaikan sholat, ia melihat seorang pengemis duduk di jalan sambil meminta-minta.<br /> <br /> Kemudian &hellip;..<br /> <br /> &rdquo;Apakah hidupmu boros ?&rdquo; tanya Nasruddin. &rdquo;Ya&rdquo; jawab si pengemis. &rdquo;Apakah engkau menyukai duduk-duduk sambil minum kopi dan mengisap rokok ?&rdquo; Tanya Nasruddin. &rdquo;Ya&rdquo; jawab si pengemis. &rdquo;Kukira engkau pasti suka bila bisa mandi setiap hari ?&rdquo; tanya Nasruddin. &rdquo;Ya, tentu saja&rdquo; lagi-lagi si pengemis mengiyakan. &rdquo;Dan mencari kesenangan, barangkali dengan minum-minum bersama teman ?&rdquo; tanya Nasruddin. &rdquo;Ya, aku menyukai semua itu&rdquo; jawab si pengemis bersemangat. &rdquo;Cek cek&rdquo; decak Nasruddin dan kemudian memberinya satu keping uang emas.<br /> <br /> Dari kejauhan, ada pengemis lainnya yang mencuri dengar percakapan itu dan kemudian menghampirinya dan meminta derma.<br /> <br /> &rdquo;Apakah hidupmu boros ?&quot; tanya Nasruddin, &rdquo;Tidak&rdquo; jawab si pengemis kedua. &rdquo;Apakah engkau menyukai duduk-duduk sambil minum kopi dan mengisap rokok ?&rdquo; tanya Nasruddin. &rdquo;Tidak&rdquo; jawab si pengemis kedua. &rdquo;Kukira engkau pasti suka bila bisa mandi setiap hari ?&rdquo; tanya Nasruddin. &rdquo;Juga tidak&rdquo; jawab si pengemis. &rdquo;Dan mencari kesenangan, barangkali dengan minum-minum bersama teman ?&rdquo; tanya Nasruddin. &rdquo;Tidak, tidak, aku hanya ingin sekadar hidup yang sederhana dan beribadah&rdquo; jawab si pengemis kedua. Kemudian Nasruddin memberinya satu keping uang perunggu.<br /> <br /> &rdquo;Mengapa ini&rdquo;, jerit si pengemis itu, &rdquo;Mengapa engkau berikan kepadaku, seorang yang hemat lagi soleh, hanya satu sen saja, sedangkan engkau berikan kepada orang yang boros itu jumlah yang lebih besar ?</p>  <blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">&rdquo;Aah kawanku&rdquo;, tukas Nasruddin, &rdquo;yang dia butuhkan lebih banyak daripada yang engkau butuhkan.&rdquo;</font></p></blockquote>  <p class="MsoNormal">&nbsp;</p>      <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">Bandung - 17/07/2008<br />Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah,<br />alih bahasa oleh wiwin.wr &copy;2008</font></p>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/16/nasruddin-dan-pengemis/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pemain Harpa</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/15/musikus-kadaluarsa/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/15/musikus-kadaluarsa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 05:19:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Mawlana RUMI</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/15/musikus-kadaluarsa/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Judul asli ASLI: THE HARPER&nbsp;  Syahdan, dikala Khalifah ke-dua Umar bin Khattab ra. memerintah, hiduplah seorang musikus, ia seorang yang pandai memetik harpa lagi merdu suaranya bagai lantunan suara terompet Izrafil as. Ia selalu disewa untuk memeriahkan suasana di setiap pesta keriaan.  Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun semakin tua dan suaranya tidak [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div align="left"><font color="#999900"><strong>Judul asli ASLI: THE HARPER</strong></font>&nbsp;  </div><p align="left" class="MsoNormal">Syahdan, dikala Khalifah ke-dua Umar bin Khattab ra. memerintah, hiduplah seorang musikus, ia seorang yang pandai memetik harpa lagi merdu suaranya bagai lantunan suara terompet Izrafil as. Ia selalu disewa untuk memeriahkan suasana di setiap pesta keriaan.</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun semakin tua dan suaranya tidak lagi merdu sampai akhirnya tidak ada seorangpun yang menyewanya untuk memeriahkan pesta-pesta keriaan mereka.</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Dalam keputus-asaannya ia pergi ke tanah-pemakaman di Yatsrib dan memetik harpa-nya untuk Tuhan, mencari-Nya untuk berterima-kasih kepada-Nya atas apa-apa yang telah diberikan-Nya kepadanya. Seusai memainkan lagunya ia pun terlelap dan bermimpi bahwa ia sedang berada di surga.</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Di malam yang sama muncul bisikan ilaahiyyah kepada Umar bin Khattab ra.&nbsp; yang menyuruhnya untuk pergi ke tanah-pemakaman dan menolong seseorang yang sudah tua yang akan ditemuinya disana.</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Umar ra. pun bergegas kesana dan mendapati musikus itu dan memberinya uang. Serta menjanjikan untuk memberinya lagi bilamana ia membutuhkan.</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Orang itu kemudian melemparkan harpanya dan mengatakan bahwa harpa itulah yang menjadikannya terhijab dari Tuhan dan ia pun kemudian menyatakan rasa bersalahnya yang mendalam atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya di waktu lampau.</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Umar ra. kemudian menjelaskan kepadanya bahwa perjalanan-duniawi-nya sekarang sudah berakhir. Dan ia tidak boleh membiarkan dirinya bersedih atas apa-apa yang terjadi di masa lampau sebagaimana saat ini ia sudah masuk ke dalam suasana yang penuh dengan kemurnian dan kecintaan akan penyatuan dengan Tuhan. Dan di dalam tingkatan yang penuh kemuliaan itu, perhatian kepada hal-hal di masa lampau dan di masa yang akan datang harus disingkirkan jauh-jauh.</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Musikus itu menjalani pelajaran yang diterimanya dan sejak saat itu ia tidak lagi mengamen. <br /></p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p><div align="left">          </div><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">Bandung - 12/02/2009<br />Source: </font><font color="#999900">MATSNAWI, The Spiritual Couplets of &nbsp;Maulana Jalalu-&#8217;d-diin Muhammad Rumi,<br />Book I - Abridged and Translated by E.H. Whinfield 1898</font><font color="#999900"> - Story VIII.1 The Harper - alih bahasa oleh wiwin.wr </font><font color="#999900">&copy;2009</font></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/15/musikus-kadaluarsa/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Perkawinan dan penyatuan</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/14/perkawinan-dan-penyatuan/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/14/perkawinan-dan-penyatuan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 20:36:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Mawlana RUMI</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/14/perkawinan-dan-penyatuan/</guid>
		<description><![CDATA[<p>&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font color="#cc9999"&gt;Kebahagiaan adalah saat kita duduk bersama,&lt;br /&gt;Dua sosok, dua wajah, yang menyatu ...&lt;br /&gt;kau dan aku.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font color="#cc9999"&gt;Bunga-bunga &amp;lsquo;kan bermekaran dan&lt;br /&gt;burung-burung &amp;lsquo;kan menembangkan kidungnya,&lt;br /&gt;ketika kita memasuki taman ... kau dan aku.&amp;nbsp;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><code>&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font color="#cc9999"&gt;Kebahagiaan adalah saat kita duduk bersama,&lt;br /&gt;Dua sosok, dua wajah, yang menyatu ...&lt;br /&gt;kau dan aku.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font color="#cc9999"&gt;Bunga-bunga &amp;lsquo;kan bermekaran dan&lt;br /&gt;burung-burung &amp;lsquo;kan menembangkan kidungnya,&lt;br /&gt;ketika kita memasuki taman ... kau dan aku.&amp;nbsp;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font color="#cc9999"&gt;Bintang-bintang &amp;lsquo;kan muncul di langit &amp;lsquo;tuk menjadi saksi,&lt;br /&gt;&amp;lsquo;kan kita terangi mereka,&lt;br /&gt;dengan cahaya purnama ... kau dan aku.&amp;nbsp;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font color="#cc9999"&gt;Tiada lagi pemisahan &amp;lsquo;kau&amp;rsquo; dan &amp;lsquo;aku&amp;rsquo;&lt;br /&gt;nuansa kebahagiaan dalam penyatuan semata -&lt;br /&gt;kegembiraan, kegairahan, tiada kesusahan ... kau dan aku.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font color="#cc9999"&gt;Burung-burung surga yang bersayap cemerlang,&lt;br /&gt;&amp;lsquo;kan menukik turun &amp;lsquo;tuk minum air yang manis -&lt;br /&gt;air mata kebahagiaan kita ... kau dan aku.&amp;nbsp;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font color="#cc9999"&gt;Betapa sebuah keajaiban, kita duduk disini,&lt;br /&gt;walau di tepi dunia yang berseberangan,&lt;br /&gt;kita tetap akan duduk bersama ... kau dan aku.&amp;nbsp;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font color="#cc9999"&gt;Kita adalah satu sosok di dunia ini,&lt;br /&gt;dan menjadi sosok yang lain dikemudian.&amp;nbsp;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font color="#cc9999"&gt;bagi kita ada surga yang abadi,&lt;br /&gt;keceriaan yang tanpa akhir .... kau dan aku.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#999900"&gt;Bandung, 11/02/2009&lt;br /&gt;[Diwan, S P, XXXVIII &amp;ndash; terjemahan ke bahasa Inggris oleh Reynold A Nicholson &amp;ndash; alih ke bahasa Indonesia oleh wiwin.wr &amp;copy;2009]&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#999900"&gt;... saya masih belajar menerjemahkan, silahkan perbaiki di kolom komentar bila berkenan.&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</code></pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/14/perkawinan-dan-penyatuan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Saudagar dan Kakatua pintar</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/13/bahasa-kaumnya/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/13/bahasa-kaumnya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 03:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Mawlana RUMI</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/13/bahasa-kaumnya/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Syahdan ada seorang saudagar yang memelihara seekor burung Kakatua. Burung itu ditempatkannya dalam sebuah sangkar.   Ketika ia hendak bepergian untuk berdagang ke Hindustan, dia bertanya kepada si burung Kakatua apakah ada pesan-pesan yang hendak dititipkan untuk disampaikan kepada sanak saudaranya di Hindustan.  Kakatua itu menginginkan agar saudagar itu mengatakan kepada sanak saudaranya [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p align="left" class="MsoNormal">Syahdan ada seorang saudagar yang memelihara seekor burung Kakatua. Burung itu ditempatkannya dalam sebuah sangkar. </p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Ketika ia hendak bepergian untuk berdagang ke Hindustan, dia bertanya kepada si burung Kakatua apakah ada pesan-pesan yang hendak dititipkan untuk disampaikan kepada sanak saudaranya di Hindustan.</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Kakatua itu menginginkan agar saudagar itu mengatakan kepada sanak saudaranya disana bahwa ia hidup dalam sebuah sangkar. Saudagar itupun berjanji akan menyampaikan pesan tersebut.</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Ketika ia sampai di Hindustan, disampaikannya pesan itu kepada kumpulan burung Kakatua yang pertama kali dijumpainya.</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Demi mendengar pesan itu, seekor kakatua langsung jatuh tergeletak mati. Hal itu membuat si saudagar sangat jengkel kepada burung kakatuanya yang telah mengirimkan pesan semacam itu. Sepulangnya ke rumah ia segera memarahi kakatuanya dengan keras karena telah mengirimkan pesan yang semacam itu. Segera setelah mendengar cerita dari saudagar itu maka kakatua itupun jatuh dan tergeletak dalam sangkarnya, mati.</p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Saudagar itu, selepas meratapi kematian kakatuanya, mengambil bangkai burung itu dan kemudian membuangnya.</p><p align="left" class="MsoNormal">Anehnya, mendadak bangkai itu bangkit lagi dan terbang pergi menjauh. Kakatua itu telah mengikuti pesan yang ditunjukkan oleh sanak saudaranya di Hindustan agar ia menjalani laku seakan-akan mati untuk bisa terbebas dari kurungannya.<br /></p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">Bandung - 11/02/2009<br />Source: </font><font color="#999900">MATSNAWI, The Spiritual Couplets of &nbsp;Maulana Jalalu-&#8217;d-diin Muhammad Rumi,<br />Book I - Abridged and Translated by E.H. Whinfield 1898</font><font color="#999900"> - Story VII.1 The Merchant and his clever parrot - alih bahasa oleh wiwin.wr </font><font color="#999900">&copy;2009</font><br /></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/13/bahasa-kaumnya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Nama diri sebenarnya</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/12/nama-diri-sebenarnya/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/12/nama-diri-sebenarnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 01:26:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Mawlana RUMI</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/12/nama-diri-sebenarnya/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pernahkah kau dengar nama segala sesuatu dari Yang Maha Mengetahui ?Dengarlah makna rahasia &ldquo;Dia mengajarkan kepadanya Nama-Nama&rdquo;Bagi kita, nama segala sesuatu adalah bentuk-bentuk lahirnya; bagi Sang Maha Pencipta, ia adalah hakekat bathinnya.Dalam pandangan Musa, nama tongkatnya adalah &lsquo;tongkat&rsquo;; dalam pandangan Rabbu-l-alamiin namanya &ldquo;naga&rdquo;.Di dunia ini nama &lsquo;Umar&rsquo; adalah &lsquo;pemuja berhala&rsquo;, namun di alam baqa ia [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div align="left"><p class="MsoNormal">Pernahkah kau dengar nama segala sesuatu dari Yang Maha Mengetahui ?<br />Dengarlah makna rahasia &ldquo;Dia mengajarkan kepadanya Nama-Nama&rdquo;</p><p class="MsoNormal">Bagi kita, <em>nama segala sesuatu</em> adalah bentuk-bentuk lahirnya; bagi Sang Maha Pencipta, ia adalah hakekat bathinnya.</p><p class="MsoNormal">Dalam pandangan Musa, nama tongkatnya adalah &lsquo;tongkat&rsquo;; dalam pandangan Rabbu-l-alamiin namanya &ldquo;naga&rdquo;.<br />Di dunia ini nama &lsquo;Umar&rsquo; adalah &lsquo;pemuja berhala&rsquo;, namun di alam baqa ia adalah &ldquo;mukmin yang sesungguhnya&rdquo;</p><p class="MsoNormal"><font color="#ff9900">Di hadapan Allah Ta&rsquo;ala, pendek kata, segala yang merupakan tujuan penciptaan kita adalah nama kita yang sesungguhnya.</font></p></div><p align="left">  </p><p align="left">&nbsp;</p><p align="left">  </p><div align="left">  </div><p align="left"><font color="#999900">Maulana Jalaluddin Rumi - Matsnawi I, 1238</font><br /><font color="#999900">[sumber: Ajaran dan Pengalaman Sufi &ndash; Maulana Jalaluddin Rumi, terjemahan dari Reynold A Nicholson, cetakan Pustaka Firdaus 1996]</font></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/12/nama-diri-sebenarnya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Buncis dalam periuk</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/11/buncis-dalam-periuk/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/11/buncis-dalam-periuk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 23:24:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Mawlana RUMI</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/11/buncis-dalam-periuk/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Lihatlah buncis dalam periuk.      Betapa ia meloncat-loncat selama menjadi sasaran api. Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan, merintih terus menerus tiada henti.&ldquo;Mengapa engkau letakkan api di bawahku ?Engkau membeliku:Mengapa kini kau siksa aku seperti ini ?&rdquo;&nbsp;    Sang Isteri memukulnya dengan penyendok.      [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div align="left">Lihatlah buncis dalam periuk.<br />      </div><p align="left" class="MsoNormal">Betapa ia meloncat-loncat selama menjadi sasaran api. Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan, merintih terus menerus tiada henti.<br /><br />&ldquo;Mengapa engkau letakkan api di bawahku ?<br />Engkau membeliku:<br />Mengapa kini kau siksa aku seperti ini ?&rdquo;&nbsp;</p><div align="left">    </div><p align="left" class="MsoNormal">Sang Isteri memukulnya dengan penyendok. <br /></p><div align="left">              </div><blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#99cc99">&ldquo;Sekarang,&rdquo; katanya, &ldquo;jadi benar-benar matanglah kau dan jangan meloncat lari dari yang menyalakan api.<br />Aku merebusmu, namun bukan karena kau membangkitkan kebencian-ku, sebaliknya, inilah yang membuatmu menjadi lebih lezat.<br />Dan menjadi gizi serta bercampur dengan jiwa yang hidup:<br />kesengsaraan bukanlah penghinaan.<br /></font></p><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#99cc99">Ketika engkau masih hijau dan segar, engkau minum air dari kebun:<br /><br /></font><font color="#ff9900">air minum itu demi api ini.</font><font color="#99cc99"><br /></font></p><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#99cc99">Kasih Tuhan itu lebih dahulu daripada kemurkaan-Nya,<br />tujuannya bahwa dalam kasih-Nya<br />engkau dapat menderita kesengsaraan.</font></p><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#99cc99">Kasih-Nya yang mendahului kemurkaan-Nya itu<br />supaya sumber penghidupan, yang ada, dapat dihasilkan;<br />Bahkan kemudian Tuhan Yang Maha Agung<br />membenarkannya, berfirman,<br /><br />&lsquo;Sekarang engkau telah tercuci bersih, keluarlah dari sungai.&rsquo;</font></p><div align="left">      </div><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#99cc99">Teruslah, wahai buncis, terebus dalam kesengsaraan<br />sampai wujud ataupun diri tak tersisa padamu lagi.<br />Jika engkau telah terputus dari taman bumi,<br />engkau akan menjadi makanan dalam mulut dan masuk ke kehidupan.<br />Jadilah gizi, energi, dan fikiran !<br /></font></p><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#99cc99">Engkau menjadi air bersusu: Kini jadilah singa hutan !</font></p><div align="left">              </div><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#99cc99">Awalnya engkau tumbuh dari Sifat-Sifat Tuhan:<br />kembalilah kepada Sifat-Sifat-Nya !<br /></font></p><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#99cc99">Engkau menjadi bagian dari awan, matahari dan bintang-bintang:<br />Engkau akan menjadi jiwa, perbuatan, perkataan, dan fikiran.<br /></font></p><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#99cc99">kehidupan binatang muncul dari kematian tetumbuhan: maka perintah,<br />&lsquo;bunuhlah aku, wahai para teman setia&rsquo; adalah benar.<br /><br />Lantaran kemenangan menanti setelah mati, kata-kata,<br />&lsquo;Lihatlah, karena dibunuh aku hidup&rsquo; adalah benar.&rdquo;</font></p></blockquote><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">[sumber: Ajaran dan Pengalaman Sufi &ndash; Maulana Jalaluddin Rumi, terjemahan dari Reynold A Nicholson, cetakan Pustaka Firdaus 1996]</font></p>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/11/buncis-dalam-periuk/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rahasia Sang Kuasa</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/10/rahasia-sang-kuasa/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/10/rahasia-sang-kuasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 09:12:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Al Ghazali</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/10/rahasia-sang-kuasa/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dikisahkan bahwa ada seorang Nabi melakukan ibadat di sebuah gunung yang berdekatan dengan sebuah mata air. Kemudian lewatlah seorang penunggang kuda dan singgah sebentar untuk minum dari mata air tersebut. Kemudian karena terburu-buru, kantung uangnya yang berisi seribu dinar tertinggal disitu.    Tidak lama berselang datanglah orang lain lagi untuk minum, lalu ia [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div align="left">Dikisahkan bahwa ada seorang Nabi melakukan ibadat di sebuah gunung yang berdekatan dengan sebuah mata air. Kemudian lewatlah seorang penunggang kuda dan singgah sebentar untuk minum dari mata air tersebut. Kemudian karena terburu-buru, kantung uangnya yang berisi seribu dinar tertinggal disitu.<br />    </div><p align="left" class="MsoNormal">Tidak lama berselang datanglah orang lain lagi untuk minum, lalu ia mendapati kantung uang si penunggang kuda itu dan kemudian membawanya pergi. Berikutnya tibalah seorang lelaki miskin yang memikul seikat kayu bakar. Ia minum dan setelah itu ia berbaring untuk melepaskan lelah. <br /></p><div align="left">    </div><p align="left" class="MsoNormal">Tiba-tiba datanglah si penunggang kuda untuk mengambil kantung uangnya yang tertinggal namun ia tidak mendapati kantung uangnya disitu. <br /></p><div align="left">    </div><p align="left" class="MsoNormal">Karena tidak menemukan uangnya, sementara yang masih ada didekatnya adalah si miskin tersebut, si penunggang kuda menuduhnya dan menuntutnya untuk mengembalikan uangnya, ia terus-menerus memeriksanya dan menyiksanya, namun demikian ia tetap tidak mendapatkan uangnya, akhirnya si pembawa kayu bakar itupun dibunuhnya. <br /></p><div align="left">    </div><p align="left" class="MsoNormal">Menyaksikan peristiwa tersebut, Nabi yang sedang melakukan ibadat itu berseru kepada Allah Ta&rsquo;ala, &ldquo;wahai Rabbku, ada apa ini ? Yang mengambil kantung uang seribu dinar adalah orang lain. Namun mengapa Engkau menjadikan si penunggang kuda itu menzalimi si miskin tersebut hingga ia membunuhnya.&rdquo; <br /></p><div align="left">    </div><p align="left" class="MsoNormal">Lalu Allah Ta&rsquo;ala menurunkan wahyu kepadanya, <br /></p><div align="left">    </div><blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cccc99">&rdquo;Bersibuk-sibuklah kamu dengan ibadatmu ! Mengetahui rahasia-rahasia Sang Maha Penguasa itu bukanlah urusanmu; si miskin pembawa kayu bakar itu telah membunuh ayah si penunggang kuda, karenanya Aku menempatkannya untuk mendapat qishash [balasan] daripadanya. Sedangkan ayah si penunggang kuda itu telah mengambil seribu dinar dari dari harta milik orangtua dari yang mengambil kantung uang itu dan Aku mengembalikannya sebagai warisannya.&rdquo; </font><br /></p></blockquote><div align="left">    </div><p align="left" class="MsoNormal">Manusia akan selalu bertanya-tanya, &ldquo;mengapa begini&rdquo;, &ldquo;mengapa begitu&rdquo;, &ldquo;bagaimana bisa begini&ldquo; dan &ldquo;bagamana bisa begitu&rdquo; &#8230;.. sampai saatnya ia ridha kepada apa-apa yang ditentukan Allah Ta&rsquo;ala di semesta alam-alam ini. <br /></p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p><div align="left">    </div><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">Bandung 15/07/2008 Semoga bermanfaat<br />[sumber: Al Ghazali dalam kitabnya Arba&rsquo;in fii ushuluddiin, terjemahannya: Teosofia Al Quran, bab 39. Ridha terhadap Qadha, cetakan Risalah Gusti 1996]</font></p>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/10/rahasia-sang-kuasa/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Emas atau Pasir</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/09/emas-atau-pasir/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/09/emas-atau-pasir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 08:39:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Petikan-Petikan</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/09/emas-atau-pasir/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wahb ibn Munabbih mengisahkan bahwa seseorang menemui gurunya dan berkata, &ldquo;Aku telah membuang hawa nafsu&rdquo;&#8230;.. &ldquo;Apakah kamu masih bisa membedakan antara wanita dan obat-obatan ?&rdquo; tanya gurunya. Orang itu menjawab, &ldquo;Ya&rdquo;    &ldquo;Kau bukanlah membuang hawa-nafsu, Kau malahan membuatnya semakin kokoh,&rdquo; tandas sang Guru.    Nabi Isa Ibn Maryam as. bertanya [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p align="left" class="MsoNormal">Wahb ibn Munabbih mengisahkan bahwa seseorang menemui gurunya dan berkata, &ldquo;Aku telah membuang hawa nafsu&rdquo;&#8230;.. &ldquo;Apakah kamu masih bisa membedakan antara wanita dan obat-obatan ?&rdquo; tanya gurunya. Orang itu menjawab, &ldquo;Ya&rdquo;</p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cccc66">&ldquo;Kau bukanlah membuang hawa-nafsu, Kau malahan membuatnya semakin kokoh,&rdquo; tandas sang Guru.</font></p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cccc66">Nabi Isa Ibn Maryam as. bertanya kepada kaumnya,<br />&ldquo;Menurut kalian apakah kedua barang ini sama ?&rdquo;<br />Di tangan kanannya emas, dan pasir di tangan kirinya.<br />&ldquo;Tidak !&rdquo; jawab mereka.</font></p><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cccc66">&ldquo;Bagiku keduanya sama,&rdquo; sanggah Nabi Isa as &#8230;&#8230;<br />Inilah orang </font><font color="#999900">[admin: maksudnya Nabi Isa as.]</font><font color="#cccc66"> yang berhasil menaklukkan hawa-nafsunya !</font></p></blockquote><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Barangkali ada yang bertanya, &ldquo;Bagaimana hati menganggap pasir dan emas itu sama ?&rdquo; </p><blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cccc66">Manusia membedakan keduanya, atau lebih menghargai emas daripada pasir karena dorongan hawa-nafsu dalam shadrnya. Menjadikan ia melihat emas lebih bermanfaat daripada pasir sehingga lebih menghargainya.</font></p></blockquote><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Karena itu, sepatutnyalah orang yang ingin lepas dari belenggu hawa-nafsu agar mengolah-jiwanya hingga mampu memandang segala sesuatu dengan cahaya keyakinan. Semua adalah ciptaan Allah Ta&rsquo;ala, semua adalah makhluk Allah Ta&rsquo;ala. Penilaiannya terhadap setiap ciptaan-Nya senantiasa diselaraskan dengan penilaian Allah Ta&rsquo;ala kepada ciptaan-Nya itu. Allah Ta&rsquo;ala bisa saja memberikan nilai yang dikandung emas kepada batu atau kaca, sehingga nilai emas menjadi rendah. Tidakkah anda mendengar bahwa Umar bin Khattab ra. pernah hendak membuat dirham dari kulit sapi ?</p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Penghargaan terhadap dirham dan dinar harus sesuai dengan ketentuan Allah Ta&rsquo;ala, bukan dengan dorongan hawa-nafsu. Kalau ada orang pergi ke Samarkand dengan membawa uang yang berlaku disana, dia pasti akan sangat menghargai uang itu. Dia akan sedih bila uang itu hilang dan senang jika mendapatkannya kembali. Tetapi seandainya dia pergi ke daerah lain tempat uang yang dibawanya tidak berlaku, dia tentu tidak berkeberatan membuang uang itu.</p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Ini adalah bukti bahwa emas sangat berharga dalam hati karena logam itu memiliki manfaat besar. Ia sebenarnya bisa saja ditukar dengan segala sesuatu. Atas dasar inilah, Allah Ta&rsquo;ala sangat membenci orang yang menghargai dinar dan dirham (atau segaa sesuatu) karena manfaatnya, bukan karena Allah.</p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Anda harus melatih dan memisahkan diri anda dari semua pandangan demikian supaya hati bersih dan berjalan di atas keyakinan yang lurus. Dengan begitu anda bisa melihat dinar dan dirham sama seperti makhluk-makhluk ciptaan Allah Ta&rsquo;ala lainnya.</p><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Setelah itu, barulah anda mampu menilainya sesuai dengan penilaian Allah Ta&rsquo;ala. Apabila anda sudah mampu menilai keduanya dengan benar seraya menyadari manfaat keduanya, saat itulah anda akan mengetahui nilai hakiki keduanya. Kedua logam itu tak lain adalah salah satu di antara sekian banyak ciptaan-Nya. Inilah maksud pernyataan Nabi Isa. as di atas.</p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal"><br /></p><div align="left">      </div><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">Bandung 19/07/2008 Semoga bermanfaat<br />[sumber: At Tirmidzi dalam kitab Adabu-n-Nafsi, terjemahannya: The Wisdom of Al-Hakim At-Tirmidzi, bab tentang kehendak hawa-nafsu]</font></p>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/09/emas-atau-pasir/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Kerendahan-hati sorang sufi</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/08/kerendah-hati-sorang-sufi/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/08/kerendah-hati-sorang-sufi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 05:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Anekdot</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/08/kerendah-hati-sorang-sufi/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dua orang guru sufi sedang duduk bersama di sebuah kedai teh tatkala seorang berlari masuk untuk mengabarkan bahwa salah seorang syaikh yang telah dikirim ke India olah guru sufi yang pertama telah meninggal dunia. Bersediakan ia mengirimkan syaikh yang baru ?    Guru sufi pertama menoleh kepada sahabatnya, &ldquo;Aku senang karena mereka hanya [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p align="left" class="MsoNormal">Dua orang guru sufi sedang duduk bersama di sebuah kedai teh tatkala seorang berlari masuk untuk mengabarkan bahwa salah seorang syaikh yang telah dikirim ke India olah guru sufi yang pertama telah meninggal dunia. Bersediakan ia mengirimkan syaikh yang baru ?</p><div align="left">    </div><blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cccc66">Guru sufi pertama menoleh kepada sahabatnya, &ldquo;Aku senang karena mereka hanya meminta seorang syaikh, sebab jika mereka meminta seorang darwis, maka kamu atau aku yang harus pergi !&rdquo;</font></p></blockquote><p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p><p align="left" class="MsoNormal">  </p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager]</font></p>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/08/kerendah-hati-sorang-sufi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Semua berdzikir</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/07/semua-berdzikir/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/07/semua-berdzikir/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 15:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Anekdot</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/07/semua-berdzikir/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Beberapa tahun silam, salah seorang syaikh dari Istanbul menyuruh para darwisnya agar pergi keluar memetik bunga untuk menghias pondok mereka. Mereka semua kembali dengan karangan-karangan bunga besar, kecuali seorang darwis yang hanya pulang sekuntum bunga yang layu.    Ketika ditanya mengapa ia tidak membawa pulang bunga-bunga indah yang segar, ia menjawab, &ldquo;Aku mendapati [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p align="left" class="MsoNormal">Beberapa tahun silam, salah seorang syaikh dari Istanbul menyuruh para darwisnya agar pergi keluar memetik bunga untuk menghias pondok mereka. Mereka semua kembali dengan karangan-karangan bunga besar, kecuali seorang darwis yang hanya pulang sekuntum bunga yang layu.</p><div align="left">    </div><p align="left" class="MsoNormal">Ketika ditanya mengapa ia tidak membawa pulang bunga-bunga indah yang segar, ia menjawab, </p><blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cccc66">&ldquo;Aku mendapati semua bunga sedang sibuk berdzikir kepada Tuhan. Bagaimana aku menghentikan doa mereka yang terus menerus itu ? Aku terus mencari dan akhirnya aku menemukan sekuntum bunga yang usai dari dzikirnya, dan inilah yang kubawa.&rdquo;</font></p></blockquote><div align="left">    </div><p align="left" class="MsoNormal">Darwis itu kemudian menjadi syaikh yang berikutnya.</p><p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p><p align="left" class="MsoNormal">  </p><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager]</font></p>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/07/semua-berdzikir/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pelajar dan Pengamal</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/06/pelajar-dan-pengamal/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/06/pelajar-dan-pengamal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2009 15:08:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Anekdot</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/06/pelajar-dan-pengamal/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Suatu hari seorang sarjana sedang berperahu di sebuah danau yang besar. Ia mendengar sebuah suara datang dari arah sebuah pulau yang kecil. Merasa penasaran, ia pun mendayung perahunya menuju pulau tersebut. Ia melihat seorang pertapa sedang berdzikir sambil duduk dan membaca sebuah doa berulang-ulang.    Sang sarjana menyapa si pertapa seraya menjelaskan bahwa, [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p align="left" class="MsoNormal">Suatu hari seorang sarjana sedang berperahu di sebuah danau yang besar. Ia mendengar sebuah suara datang dari arah sebuah pulau yang kecil. Merasa penasaran, ia pun mendayung perahunya menuju pulau tersebut. Ia melihat seorang pertapa sedang berdzikir sambil duduk dan membaca sebuah doa berulang-ulang.</p><div align="left">    </div><p align="left" class="MsoNormal">Sang sarjana menyapa si pertapa seraya menjelaskan bahwa, berdasarkan bahasa Arab klasik, ia tidak tepat dalam mengucakan doa tersebut. Sang sarjana merasa puas karena telah mampu meluruskan si pertapa yang buta huruf tersebut. Lagi pula disebutkan bahwa mereka yang menguasai doa tersebut dapat berjalan di atas air.</p><div align="left">    </div><p align="left" class="MsoNormal">Sang sarjana pun kemudian meninggalkan si pertapa pergi menaiki perahunya dan merasa puas atas amal baiknya. </p><p align="left" class="MsoNormal">Kemudian ia mendengar suara dari belakangnya, lalu menoleh. Si pertapa sedang berlari-lari di atas air untuk mengejarnya, &ldquo;Wahai anak muda, aku telah mengucapkan doa tersebut secara salah selama bertahun-tahun ! Tolong ulangi kembali untukku dengan cara yang benar, sekali lagi.&rdquo;</p><p>  </p><p class="MsoNormal">&nbsp;</p><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">[Catatan: Ibn Arabi di kitabnya, al-Anwar fiima yamnahu soohib al-khalwat min Asroor, diterjemahkan menjadi buku: Cahaya Penakluk Surga, halaman 21, menuliskan tentang apa saja ciri-ciri awal orang-orang yang tawakkal billaah yakni : bumi terlipat di bawah kaki mereka, mereka mampu menerobos langit, mereka mampu berjalan di atas air, mereka diberi makan oleh semesta alam, dan semua tanpa usaha dari mereka.</font></p><div align="left">    </div>  <p><font color="#999900">[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager, disunting oleh web-admin]</font></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/06/pelajar-dan-pengamal/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Darwis belajar menulis</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/05/pelajaran-dan-pengamalan/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/05/pelajaran-dan-pengamalan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 15:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Anekdot</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/05/pelajaran-dan-pengamalan/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Seorang darwis [1] miskin suatu kali menghampiri seorang guru Bahasa Arab yang tidak memiliki ruang kelas. Sang guru menuliskan pelajarannya dengan kapur pada dinding kota. Sang darwis bertanya kepada si guru, apakah ia boleh belajar membaca dan menulis. Terdorong oleh ketulusan sang darwis, sang guru menawarkan pengajaran secara Cuma-Cuma. Ia mengambar garis vertikal pada dinding [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p align="left" class="MsoNormal">Seorang darwis <font color="#999900">[1]</font> miskin suatu kali menghampiri seorang guru Bahasa Arab yang tidak memiliki ruang kelas. Sang guru menuliskan pelajarannya dengan kapur pada dinding kota. Sang darwis bertanya kepada si guru, apakah ia boleh belajar membaca dan menulis. Terdorong oleh ketulusan sang darwis, sang guru menawarkan pengajaran secara Cuma-Cuma. Ia mengambar garis vertikal pada dinding dan menjelaskan, &ldquo;Ini adalah huruf alif, huruf yang pertama&rdquo; Sang darwis membungkuk, berterima kasih , kemudian berjalan pergi. Sang guru, yang terbiasa mengajarkan setidaknya setengah dari keseluruhan abjad pada pengajaran pertama, merasa terkejut. Ini akan menjadi sebuah proses pengajaran yang panjang !</p><div align="left">    </div><p align="left" class="MsoNormal">Pada hari berikutnya, bahkan minggu berikutnya, sang darwis tidak kembali. Akhirnya, sang guru melupakannya. Beberapa bulan kemudian sang darwis muncul. Matanya memancarkan cahaya batiniyyah. Ia membungkuk dengan hormat dan mengatakan siap untuk pelajaran berikutnya. Sang guru berpikir, &ldquo;Kita tidak akan dapat menyelesaikan keseluruhan abjad dengan tempo seperti ini, &ldquo; namun yang ia katakan pada sang darwis adalah, &ldquo;Baiklah. Pertama kali, mari kita mengulang pelajaran yang pertama. Tulislah huruf alif pada dinding ini.&rdquo;</p><div align="left">    </div><blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cccc66">Sang darwis menuliskan huruf alif, lalu dinding itu pun rubuh.</font></p></blockquote><div align="left">  </div><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Robert Frager dalam bukunya menuliskan lanjutan kisah di atas: </p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal">Kisah ini mengingatkan kita bahwa ada hal yang lebih dari sebuah permulaan yang sederhana daripada yang kita sadari. Rahasia dari kemajuan spiritual terletak bukan kepada berapa banyak kita belajar tetapi sejauh mana penguasaan kita terhadap yang kita pelajari.</p><p>&nbsp;</p><p>  </p>      <p align="left"><font color="#999900">[1] Darwis adalah sebutan untuk seorang yang sedang belajar menjadi pengamal thasawwuf.<br />[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager]</font></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/05/pelajaran-dan-pengamalan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Penyakit dan obatnya</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/04/penyakit-dan-obatnya/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/04/penyakit-dan-obatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 14:57:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Anekdot</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/04/penyakit-dan-obatnya/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Seorang pemuda menjadi murid seorang syaikh. Ia ditugaskan membersihkan jamban [peturasan atau bisa juga kamar-mandi]. Ibunya, seorang dokter kaya raya, memohon kepada sang syaikh agar memberi sang anak tugas yang lain, dan mengirimkan dua belas budak Ethiopia kepada sang syaikh untuk membersihkan jamban-jamban itu.    Syaikh menjawab, &ldquo;Anda seorang dokter. Jika putra Anda [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p align="left" class="MsoNormal">Seorang pemuda menjadi murid seorang syaikh. Ia ditugaskan membersihkan jamban [peturasan atau bisa juga kamar-mandi]. Ibunya, seorang dokter kaya raya, memohon kepada sang syaikh agar memberi sang anak tugas yang lain, dan mengirimkan dua belas budak Ethiopia kepada sang syaikh untuk membersihkan jamban-jamban itu.</p><div align="left">    <blockquote><p class="MsoNormal"><font color="#cccc66">Syaikh menjawab, &ldquo;Anda seorang dokter. Jika putra Anda menderita radang pada kandung kemihnya, haruskah saya mengobati seorang budak Ethiopia sebagai gantinya ?&rdquo;</font></p></blockquote></div><p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p><p align="left" class="MsoNormal">  </p><div align="left">  </div><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager]</font></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/04/penyakit-dan-obatnya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Perkawinan dan pensucian</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/03/perkawinan-dan-esensinya/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/03/perkawinan-dan-esensinya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 18:36:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Mawlana RUMI</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/03/perkawinan-dan-esensinya/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Rumi berkata:      &ldquo;Siang dan malam kamu berada di medan peperangan, berjuang keras untuk mengubah sifat si lawan jenis, untuk menjernihkan ketidakmurnian mereka dan untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan. Lebih baik untuk menyucikan&nbsp; dirimu sendiri melalui mereka ketimbang mencoba menyucikan mereka melalui dirimu. Ubahlah dirimu dengan bantuan mereka. Pergilah kepada mereka dan terimalah [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p align="left" class="MsoNormal">Rumi berkata:</p> <div align="left">    </div> <p align="left" class="MsoNormal">&ldquo;Siang dan malam kamu berada di medan peperangan, berjuang keras untuk mengubah sifat si lawan jenis, untuk menjernihkan ketidakmurnian mereka dan untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan. Lebih baik untuk menyucikan&nbsp; dirimu sendiri melalui mereka ketimbang mencoba menyucikan mereka melalui dirimu. Ubahlah dirimu dengan bantuan mereka. Pergilah kepada mereka dan terimalah apa-apa yang mereka katakan, sekalipun dari sudut pandangmu kata-kata mereka terdengar aneh dan tidak adil.</p> <div align="left">      </div> <blockquote> <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#ff9900">Nabi Muhammad Saw. berkata: &ldquo;Tidak ada kerahiban dalam Islam&rdquo;. Itulah sebuah kebenaran.</font> </p> </blockquote> <div align="left">  </div> <p align="left" class="MsoNormal">Cara hidup para rahib adalah penyepian, yang berdiam di gunung-gunung, laki-laki tidak hidup dengan wanita dan menjauhkan diri dari dunia. Allah menunjukkan kepada Nabi sebuah jalan lurus yang tersamar. </p> <div align="left">  </div> <p align="left" class="MsoNormal">Jalan apa itu ? </p><a id="more-6"></a> <div align="left">  </div> <blockquote> <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#996600">Perkawinan, sehingga kita dapat menghadapi cobaan-cobaan hidup bersama dengan pasangan kita, untuk mendengarkan tuntutan mereka, demi mereka yang memperlakukan kasar kepada kita, dan dengan cara ini untuk menghaluskan perangai kita sendiri.</font></p> <div align="left">  </div> <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#996600">Dengan memikul dan hidup bersama dengan perangai kejam pasanganmu, ini seolah-olah kamu menghapus ketidakmurnianmu sendiri melalui mereka. Perangaimu menjadi baik melalui kesabaran; perangai mereka menjadi buruk melalui penguasaan dan penyerangan. Ketika kamu menyadari ini, buatlah dirimu bersih. Ketahuilah bahwa mereka seperti sebuah pakaian; melalui diri mereka, kamu dapat membersihkan ketidakmurnianmu sendiri dan dirimu menjadi bersih.</font></p> </blockquote> <div align="left">  </div> <p align="left" class="MsoNormal">Tepiskanlah kebanggaanmu, kecemburuan dan iri-hati, sampai kamu mengalami kesenangan dalam berjuang dan memikul penderitaan. Melalui tuntutan-tuntutan mereka temukanlah keriangan spiritual. Setelah itu, kamu akan memikul perjuangan serupa, dan kamu tidak akan lari dari penindasan, karena kamu akan melihat keuntungan-keuntungan yang mereka berikan untukmu.</p> <div align="left">    </div> <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">[saya mohon maaf bagi para isteri karena menuliskan bagian ini]</font></p> <div align="left">    </div> <p align="left" class="MsoNormal">Dikisahkan bahwa suatu malam Rasulullah saw. kembali dengan para sahabat dan pengikutnya dari sebuah serangan. Nabi memerintahkan mereka untuk menabuh genderang, seraya berkata &ldquo;Malam ini kita akan tidur di gerbang kota dan memasuki kota esok harinya.&rdquo; Mereka bertanya, &ldquo;Wahai Rasululah, mengapa kita tidka langsung pulang saja ?&rdquo; Dia berkata, &ldquo;Mungkn saja kamu melihat isterimu di tempat tidur bersma lelaki lain. Kamu akan sakit hati dan akan menimbulkan keributan.&rdquo; Salah seorang pengikut tidak mendengar pesan ini; dia masuk ke rumah dan menemukan isterinya bersama lelaki asing.</p> <div align="left">  </div> <p align="left" class="MsoNormal">Jalan sang Nabi Saw. adalah: </p> <div align="left">  </div> <blockquote> <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">Perlulah memikul penderitaan untuk membantu membuang keegoan diri, kecemburuan dan kecongkakan. Mengalami penderitaan dari hasrat-hasrat pasangan kita yang luar biasa, penderitaan dari beban yang sungguh tidak adil, dan seratus ribu penderitaan lain di atas semua ikatan sehingga jalan spiritual menjadi jelas. Jalan Isa as. adalah bergelut dengan kesunyian dan tidak memanjakan hawa nafsu. Jalan Muhammad adalah untuk memikul penindasan dan penderitaan yang disebabkan oleh laki-laki dan wanita kepada pihak lain. Jika kamu tidak dapat berjalan dengan jalan Muhammad, setidaknya pergilah dengan jalan Isa, agar kamu tidak sepenuhnya berjalan di luar jalan spiritual.</font></p> </blockquote> <div align="left">  </div> <p align="left" class="MsoNormal">Jika kamu memperoleh ketenangan untuk memikul seratus pukulan, yang melihat buah-buahan dan panenan yang muncul darinya, atau mempercayai dalam hatimu yang tersembunyi, &ldquo;Meskipun saat ini aku tidak melihat buah dari penderitaan ini, pada akhirnya aku akan mencapai perbendaharaan itu, ya, dan lebih dari yang pernah kamu inginkan dan harapkan.</p> <div align="left">  </div> <p align="left" class="MsoNormal">Jika kata-kata ini tidak mempengaruhimu sekarang ini, setelah sesaat kemu menjadi lebih dewasa, kata-kata itu akan meninggalkan sebuah kesan yang besar. Inilah perbedaan antara berbicara dengan pesanganmu dan seorang kawan. Ketika kamu berbicara kepada pasanganmu, mereka masih tetap sama dan tidak akan mengubah cara-cara mereka apapun yang kamu katakan. Kata-katamu tidak memiliki pengaruh kepada mereka, sekalipun mereka lebih merasa yakin.</p> <div align="left">  </div> <p align="left" class="MsoNormal">Misalnya ambilah sepotong roti, letakkan di bawah tanganmu, dan jangan berikan kepada orang lain, dengan berkata, &ldquo;Aku tidak memberikannya kepada siapapun. Berikan ? Mengapa, aku bahkan tidak mau menunjukkannya.&rdquo;</p> <div align="left">  </div> <p align="left" class="MsoNormal">Sekalipun jika irisan roti itu dilempar dimana hewanpun tidak mau memakannya karena roti saat itu begitu berlimpah dan murah &ndash; tetapi di saat kamu mulai menolaknya, setiap orang mengejarnya dan memancangkan hati kepadanya, memohon dan menuntutnya, &ldquo;Kami ingin melihat roti itu yang kamu tolak dan sembunyikan.&rdquo; Terutama jika kamu menyembunyikannya selama setahun, dengan bersikeras secara halus bahwa kamu tidak akan memberikan ataupun menunjukkannya, keinginan mereka untuk melihat roti itu akan menerjang semua pembatas, karena, &ldquo;Orang-orang bergairah pada apa saja yang tidak diberikan kepadanya.&rdquo;</p> <div align="left">  </div> <p align="left" class="MsoNormal">Semakin kamu memberitahu pasanganmu, &ldquo;Tetaplah sembunyikan dirimu&rdquo; semakin besar dorongan mereka untuk menggoda dan menunjukkan diri. Dan melalui penyembunyian wujud mereka, lawan jenis menjadi lebih menginginkannya. Jadi tempatkan dirimu di tengah-tengah, yang memperbesar keinginan mereka pada kedua sisi, dan anggaplah dirimu sebagai pembaharu ! </p> <div align="left">  </div> <p align="left" class="MsoNormal">Mengapa, itulah esensi dari korupsi. Jika mereka memiliki dalam diri mereka kualitas alamiah untuk tidak melakukan kejahatan, apakah kamu mencegah mereka atau tidak, mereka akan melakukannya sesuai dengan temperamen mereka yang baik dan ketetapan-hati yang murni. Jadi yakinlah dan jangan cemas. Jika mereka besikap sebaliknya, mereka tetap akan melanjutkan jalan mereka sendiri; mencoba untuk menghentikan mereka sesungguhnya tidak lain kecuali meningkatkan kemauan mereka.&hellip;&hellip;&hellip;</p> <p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p> <p align="left" class="MsoNormal">  </p> <p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">[sumber: Fihi Maa Fihi &ndash; Maulana Jalaluddin Rumi, Discourses of Rumi by AJ Arberry &ndash; Omphaloskepsis, Ames, IOWA dan versi terjemahannya cetakan Pustaka Firdaus 2004]</font></p>   </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/03/perkawinan-dan-esensinya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bahlul berjualan</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/02/bahlul-berjualan/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/02/bahlul-berjualan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 21:34:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Anekdot</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/02/bahlul-berjualan/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Bahlul dikenal sebagai seorang pandir yang bijak di penjuru Bagdad. Suatu hari ia duduk di sebuah pasar dengan tiga buah tengkorak kepala di hadapannya. Di depan tengkorak yang pertama terdapat tanda bertuliskan &ldquo;GRATIS.&rdquo; Di depan tengkorak kedua terdapat tanda bertuliskan &ldquo;SATU SEN.&rdquo; Tengkorak ke tiga memiliki tanda bertuliskan &ldquo;TAK TERNILAI.&rdquo; Ketiga tengkorak tersebut tampak serupa, [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left">Bahlul dikenal sebagai seorang pandir yang bijak di penjuru Bagdad. Suatu hari ia duduk di sebuah pasar dengan tiga buah tengkorak kepala di hadapannya. </p><p align="left">Di depan tengkorak yang pertama terdapat tanda bertuliskan &ldquo;GRATIS.&rdquo; Di depan tengkorak kedua terdapat tanda bertuliskan &ldquo;SATU SEN.&rdquo; Tengkorak ke tiga memiliki tanda bertuliskan &ldquo;TAK TERNILAI.&rdquo; </p><p align="left">Ketiga tengkorak tersebut tampak serupa, dan setiap orang yang melihat kiosnya mengira bahwa Bahlul telah gila. Akhirnya, seseorang mendekatinya dan bertanya mengenai perbedaan harganya. </p><div align="left"><blockquote><p><font color="#cccc66">Bahlul mengambil sebuah tusuk daging dan mencoba untuk memasukkannya pada lubang telinga dari tengkorak yang pertama, namun ia tak berhasil. &ldquo;Lihatlah,&rdquo; katanya, &ldquo;Tidak ada yang dapat masuk ke dalam. Tengkorak ini sama sekali tidak bernilai.&rdquo; </font></p><p><font color="#cccc66">Kemudian ia mencoba tusuk daging tersebut pada tengkorak yang kedua. Ia dapat dengan mudah masuk melalui kedua lubang telinga tersebut, dan langsung menembus sisi lainnya. &ldquo;Lihatlah, tidak ada yang tinggal di dalamnya. Tengkorak ini hanya bernilai satu sen.&rdquo; </font></p><p><font color="#cccc66">Ketika Bahlul mencobanya pada tengkorak yang ketiga, tusuk daging tersebut masuk dengan mudah melewati lubang pertama tetapi tidak menembus lubang kedua. Jelasnya, &ldquo;Tengkorak ini tidak ternilai. Apa yang masuk ke dalamnya, akan tetap tinggal di dalam&rdquo; &#8230;..</font></p></blockquote></div><p align="left">&nbsp;</p><p align="left"><font color="#999900">[sumber: Hati, Diri, Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi - Robert Frager]</font><br /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/02/bahlul-berjualan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Nasruddin pura-pura</title>
		<link>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/01/nasruddin-pura-pura-dungu/</link>
		<comments>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/01/nasruddin-pura-pura-dungu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 03:45:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>Anekdot</category>
		<guid>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/01/nasruddin-pura-pura-dungu/</guid>
		<description><![CDATA[<p>&lt;p align="left"&gt;Nasruddin biasa berdiri di tepi jalan di hari pasar, menjadi bahan tertawaan orang yang lalu-lalang karena laku kedunguannya, tidak peduli seberapa sering orang-orang menawarkan (uang logam) keping besar atau kecil, ia selalu memilih keping yang kecil.  &lt;/p&gt;       &lt;p align="left"&gt;Suatu hari, seorang yang baik-hati berkata kepadanya, &amp;rdquo;Nasruddin, engkau [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><code>&lt;p align="left"&gt;Nasruddin biasa berdiri di tepi jalan di hari pasar, menjadi bahan tertawaan orang yang lalu-lalang karena laku kedunguannya, tidak peduli seberapa sering orang-orang menawarkan (uang logam) keping besar atau kecil, ia selalu memilih keping yang kecil.  &lt;/p&gt;       &lt;p align="left"&gt;Suatu hari, seorang yang baik-hati berkata kepadanya, &amp;rdquo;Nasruddin, engkau harus memilih keping yang besar sehingga kemudian engkau bisa memiliki uang yang lebih banyak dan orang-orang tidak lagi menjadikan engkau sebagai bahan tertawaan&amp;rdquo;.....    &lt;/p&gt;       &lt;blockquote&gt;    &lt;p align="left"&gt;&lt;font color="#cc9900"&gt;&amp;rdquo;Mungkin itu benar&amp;rdquo; kata Nasruddin &amp;rdquo;Tetapi bila aku selalu memilih keping yang besar maka orang-orang akan berhenti menawariku uang karena mereka tidak lagi melihat bahwa aku lebih dungu daripada mereka. Kalau seperti itu maka aku akan menjadi tidak punya uang sama sekali&amp;rdquo;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/blockquote&gt;       &lt;p align="left"&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;div align="left"&gt;  &lt;/div&gt;    &lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;     &lt;p align="left" class="MsoNormal"&gt;&lt;font /&gt;&lt;font color="#999900"&gt;Bandung - 17/07/2008&lt;br /&gt;    [Mulla Nasruddin stories, alih bahasa oleh wiwin.wr &amp;copy;2008]&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
</code></pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widjaja.blogsome.com/2009/02/01/nasruddin-pura-pura-dungu/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
